Beranda > Skripsi Akuntansi > Pengaruh Cash Ratio, Debt to Equity Ratio, Earning Per Share terhadap Cash Dividen Pada Perusahaan Keuangan di BEJ

Pengaruh Cash Ratio, Debt to Equity Ratio, Earning Per Share terhadap Cash Dividen Pada Perusahaan Keuangan di BEJ

Desember 20, 2009

Kebijakan dividen merupakan kebijakan dalam menentukan penggunaan laba yang diperoleh perusahaan, yaitu apakah laba tersebut akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan untuk tujuan reinvestasi. Salah satu bentuk pembayaran dividen yang paling banyak dipilih oleh perusahaan untuk membagikan labanya kepada pemegang saham adalah dividen tunai (cash dividend). Manajemen perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi keputusan mengenai pembayaran dividen tunai (cash dividend) agar tercapai suatu kebijakan dividen yang optimal. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh cash ratio, debt to equity ratio dan earning per share terhadap cash dividend baik secara simultan maupun parsial.
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan sektor keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta periode 2003-2005 yang membagikan dividen berturut-turut selama periode tersebut yaitu sebanyak 9 perusahaan. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan pengolahan datanya menggunakan Statistical Program Service Solution (SPSS). Pengujian hipotesis secara simultan dan uji t untuk menguji hipotesis secara parsial.
Hasil analisis menunjukkan bahwa cash ratio, debt to equity ratio dan earning per share secara simultan berpengaruh terhadap cash dividend, ditunjukkan dengan nilai Fhitung > Ftabel (38,020>3,03) dan nilai signifikansi 0,000 < ? (0,05). Dalam penelitian ini diperoleh R2 sebesar 0,832 yang berari 83,20% dari variasi cash dividend mampu dijelaskan oleh variasi himpunan variabel cash ratio, debt to equity ratio dan earning per share. Secara parsial, cash ratio tidak berpengaruh siginifikan terhadap cash dividend ditunjukkan dengan nilai thitung < ttabel (1,081<1,714). Debt to equity ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap cash dividend, ditunjukkan dengan -thitung > -ttabel (-0,327 > -1,714). Earning per share berpengaruh positif dan signifikan terhadap cash dividend, ditunjukka dengan thitung > ttabel (7,684 > 2,069).

Kebijakan dividen merupakan kebijakan dalam menentukan penggunaan laba yang diperoleh perusahaan, yaitu apakah laba tersebut akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan untuk tujuan reinvestasi di masa yang akan datang. Apabila perusahaan memilih untuk membagikan laba sebagai dividen maka laba yang ditahan perusahaan akan berkurang yang berarti juga akan mengurangi sumber dana internal perusahaan, namun di lain pihak hal tersebut akan meningkatkan kesejahteraan pemegang saham.
Kebijakan dividen adalah bersangkutan dengan penentuan pembagian pendapatan (earning) antara penggunaan pendapatan untuk dibayarkan kepada para pemegang saham sebagai dividen atau untuk digunakan di dalam perusahaan, yang berarti pendapatan tersebut harus ditahan dalam perusahaan (Bambang Riyanto, 2001:265) atau dengan kata lain kebijakan dividen berkaitan dengan penentuan berapa proporsi dari laba yang akan dibagikan sebagai dividen dan berapa proporsi yang ditahan untuk diinvestasikan kembali. Hal ini timbul karena adanya perbedaan kepentingan antara pemegang saham dengan perusahaan. Di satu pihak, para pemegang saham akan menginginkan pembagian dividen yang tinggi untuk meningkatkan return. Di lain pihak, perusahaan berusaha menahan laba yang diperoleh untuk digunakan dalam rangka meningkatkan pertumbuhan perusahaan, dimana pertumbuhan perusahaan tentu akan berimplikasi pada peningkatan kebutuhan dana. Oleh karena itu, kebijakan dividen ini diharapkan dapat memenuhi harapan-harapan para investor di satu sisi dan di sisi lain tidak menghambat pertumbuhan perusahaan.
Investasi pada saham dinilai mempunyai resiko yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi, deposito dan tabungan. Hal ini disebabkan karena pendapatan yang diharapkan dari investasi saham bersifat tidak pasti (Sunariyah, 2003). Bagi investor memperhatikan pembagian dividen merupakan suatu hal yang penting sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk melakukan investasi, karena dividen juga dapat menjadi penyampai informasi tentang keyakinan manajer dan prospek perusahaan di masa depan. Jika perusahaan merasa bahwa prospek di masa mendatang baik, pendapatan, aliran kas diharapkan meningkat atau diperoleh pada tingkat dimana dividen yang meningkat tersebut dibayarkan. Pasar akan merespon positif pengumuman kenaikan dividen tersebut. Sedangkan hal yang sebaliknya akan terjadi, jika perusahaan merasa prospek di masa mendatang menurun maka perusahaan akan menurunkan pembayaran dividennya dan pasar akan merespon negatif pengumuman tersebut (Mamduh M. Hanafi, 2004 : 371). Dengan demikian manajemen akan enggan mengurangi pembagian dividen, kalau hal ini ditafsirkan memburuknya kondisi perusahaan di masa yang akan datang.
Menurut bentuk pembayarannya, dividen dapat dibedakan menjadi dua bentuk yaitu cash dividend (dividen tunai) dan stock dividend (dividen saham). Cash dividend merupakan dividen yang dibayarkan dalam bentuk kas, stock dividend merupakan dividen yang dibayarkan sebagai tambahan jumlah lembar saham biasa kepada pemegang sahamnya. Cash dividend merupakan bentuk pembayaran dividen yang paling banyak digunakan oleh emiten untuk membagikan sebagian labanya kepada pemegang saham.
Sebagai pihak di luar emiten, para pemegang saham akan membutuhkan informasi keuangan untuk menentukan besarnya dividen yang akan diterima dalam periode tertentu. Informasi tersebut disajikan melalui laporan keuangan perusahaan yang disusun sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi dan mencerminkan kinerja keuangan emiten yang ditunjukkan oleh rasio-rasio keuangan.
Likuiditas perusahaan akan mempengaruhi besar kecilnya dividen yang dibayarkan sehingga semakin kuat posisi likuiditas perusahaan terhadap prospek kebutuhan dana di waktu mendatang, makin tinggi dividen tunai yang dibayarkan. Berarti semakin kuat posisi likuiditas perusahaan, maka kemampuannya untuk membayar dividen akan semakin besar pula (Bambang Riyanto, 2001:267). Ada pula suatu perusahaan yang keadaan likuiditasnya sangat baik tetapi membayar dividen yang rendah karena laba yang diperoleh perusahaan diinvestasikan dalam bentuk mesin dan peralatan, persediaan dan barang-barang lainnya, bukan disimpan dalam bentuk uang tunai. Ada beberapa rasio yang termasuk dalam rasio likuiditas antara lain current ratio, quick ratio, net working capital to sales dan cash ratio. Current ratio mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar seluruh kewajiban lancarnya dengan menggunakan seluruh aktiva lancarnya. Quick ratio mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari quick assets (melihat kualitas dari aktiva lancar). Net working capital to sales mengukur peranan sumber jangka panjang yang terikat pada aktiva lancar sehubungan dengan pelaksanaan penjualan. Sedangkan cash ratio yaitu rasio yang menggunakan kemampuan perusahaan dalam membayar hutang yang harus dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan. Dalam penelitian ini menggunakan cash ratio karena kas adalah bentuk yang paling likuid yang bisa digunakan segera untuk memenuhi kewajiban finansial, sedangkan hutang lancar menunjukkan kewajiban yang harus dipenuhi dalam waktu dekat biasanya kurang dari satu tahun.
Kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya (Leverage Ratio) akan mempengaruhi besarnya laba yang akan dibagikan sebagai dividen kepada para pemegang saham. Semakin tinggi tingkat hutang yang dimiliki, maka beban bunga yang harus ditanggung juga akan semakin besar. Hal ini akan menyebabkan keuntungan yang diperoleh semakin kecil, sehingga berpengaruh pada rendahnya dividen yang mampu dibayarkan kepada pemegang saham. Ada beberapa rasio yang termasuk dalam leverage ratio antara lain debt to equity ratio (menunjukkan bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk keseluruhan hutang yang dimiliki), times interest earned (mengukur pengaruh adanya modal luar bagi perusahaan) dan fixed charged coverage (mengukur kemampuan perusahaan dalam menanggung beban tetap). Dalam penelitian ini akan menggunakan debt to equity ratio untuk mengetahui berapa besar peranan modal yang dimiliki oleh pemegang saham.
Pendapatan per lembar saham atau yang lebih dikenal dengan earning per share (EPS) juga akan mempengaruhi besar kecilnya dividen yang akan dibagikan. EPS yang merupakan salah satu rasio pasar adalah perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan jumlah lembar saham yang dimiliki. Rasio pasar lainnya yaitu price earning ratio (mencerminkan pengakuan pasar terhadap laba yang dihasilkan perusahaan per lembar saham) dan dividend payout ratio (bagian laba perusahaan yang dibayarkan dalam bentuk dividen). EPS dari suatu perusahaan dapat dijadikan sebagai suatu indikator untuk menilai apakah suatu perusahaan mampu meningkatkan keuntungannya, yang berarti juga meningkatkan kekayaan para pemegang sahamnya. Dari keuntungan itu akan ditentukan seberapa besar laba yang dibagikan dan seberapa besar laba yang akan ditahan.
Pembagian dividen yang dilakukan Perusahaan Keuangan di Bursa Efek Jakarta dalam tiga tahun terakhir (2003-2005) dapat dilihat pada tabel 1.1. Populasi penelitian adalah seluruh perusahaan sektor keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta tahun 2003-2005 yaitu sebanyak 66 perusahaan sektor keuangan yang terdiri dari 25 Bank, 14 Lembaga Perkreditan selain bank, 15 Lembaga Sekuritas dan 12 Asuransi. Berdasarkan kriteria yang digunakan hanya 9 perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini.Sektor keuangan yang terdaftar di BEJ sebagai sampel dalam penelitian ini merupakan salah satu sektor industri yang ikut berperan serta dalam pasar modal, selain itu industri keuangan merupakan industri yang paling sensitif atau rentan terhadap keadaan luar (ekstern) perusahaan. Perusahaan yang bergerak di bidang keuangan memegang peranan yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan dana. Hal ini disebabkan karena bidang utama usaha perusahaan keuangan adalah menyediakan fasilitas pembiayaan dana bagi perusahaan lainnya dan hampir tidak ada bidang usaha yang tidak memerlukan dana karena dana merupakan masalah pokok yang selalu ada dan selalu muncul dalam setiap usaha.
Adanya perbedaan pembagian cash dividend oleh masing-masing perusahaan menunjukkan bahwa setiap perusahaan memiliki pertimbangan yang berbeda-beda dalam menentukan kebijakan dividen. Secara konseptual apabila cash ratio dan earning per share perusahaan semakin meningkat pada setiap tahunnya, maka kemungkinan perusahaan akan membagikan dividen yang semakin besar pula.Yang terjadi di dalam perusahaan selalu berfluktuasi setiap tahunnya, serta ada pula perusahaan yang membagikan dividen secara konstan setiap tahunnya meskipun likuiditas dan nilai pasar perusahaan tiap tahun selalu berubah.
Pembagian dividen dalam perusahaan juga dipengaruhi oleh hutang. Apabila perusahaan memperoleh hutang baru untuk membiayai perluasan perusahaan, maka sebelumnya perusahaan harus sudah merencanakan bagaimana caranya untuk membayar kembali hutang tersebut. Apabila perusahaan mempunyai kebijakan pelunasan hutang dari dana sendiri yang berasal dari keuntungan, maka perusahaan harus menahan sebagian besar pendapatannya untuk keperluan itu yang berarti akan dapat mengurangi jumlah laba yang dapat dibagikan sebagai cash dividend. Dengan kata lain perusahaan harus membagikan dividen yang rendah. Dalam kaitannya dengan tersebut kiranya diketahui bahwa cash ratio, debt to equity ratio dan earning per share mempengaruhi besar kecilnya suatu perusahaan dalam membagikan dividen.

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 249 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: