Beranda > Skripsi Bahasa Indonesia > Kajian Feature pada media massa cetak terbitan Palembang: sebuah analisis wacana kritis

Kajian Feature pada media massa cetak terbitan Palembang: sebuah analisis wacana kritis

Desember 21, 2009

Analisis wacana kritis (AWK) adalah salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk menganalisis teks media. Dalam makalahnya, Purnomo (2006:3) menyatakan, “Apabila analisis wacana yang hanya difokuskan pada penggunaan bahasa alamiah dengan analisis semata-mata bersifat linguitis, AWK berusaha menjelaskan penggunaan bahasa dikaitkan dengan perspektif disiplin lain, seperti politik, gender, dan faktor sosilogis lain”. Faktanya, AWK merupakan pengembangan dari analisis wacana (biasa) yang melihat lebih dalam makna yang tersembunyi dari suatu teks.
Penelitian mengenai analisis wacana pada media massa telah dilakukan sebelumnya oleh beberapa mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Unsri, di antaranya Nauval dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Wacana Teks Berita di Sumatera Ekspres Edisi Januari—Maret 2003” dan Risnawati yang pada tahun 2006 lalu mengangkat judul “Analisis Wacana Berita Kriminal terhadap Wanita pada Sumatera Ekspres Periode September—Desember 2005: Kajian Stilistik”. Perbedaan keduanya terletak objek yang diteliti. Risnawati membahas analisis wacana secara lebih spesifik dengan memfokuskan kajiannya mengenai kasus kejahatan terhadap kaum perempuan, sedangkan Nauval cenderung mengamati topik berita kekerasan terhadap wanita dengan segala permasalahan yang kompleks seperti, kekerasan seksual, fisik, ekonomi, dan psikis. Namun demikian, keduanya menggunakan harian lokal Sumatera Ekspres sebagai media kajiannya.

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan ideologi yang tersembunyi dalam karangan khas (feature) dan strategi penulis menyembunyikan ideologinya dilihat dari struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro.

Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat mengukuhkan pandangan analisis wacana kritis tentang karakteristik media massa dalam kaitannya dengan pihak-pihak lain yang berkepentingan dengannya. Secara praktis, penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pembinaan pengetahuan dan kepekaan mahasiswa dalam menganalisis wacana media massa secara kritis dalam kajian analisis wacana ataupun dalam kajian wacana bahasa Indonesia.

Bahasa merupakan alat komunikasi terpenting dalam kehidupan manusia. Keraf (1993:4) mengemukakan bahwa bahasa merupakan saluran perumusan maksud, melahirkan perasaan, dan memungkinkan menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Dengan demikian, sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan alat berupa bahasa untuk mengungkapakan pikiran, berinteraksi, bekerja sama dan berkomunikasi dengan manusia di sekitarnya.
Ditinjau dari segi bahasa, komunikasi dibagi menjadi dua yaitu komunikasi lisan dan komunikasi tulis. Menurut Keraf (1993:12), bahasa dalam pengertian sehari-hari adalah bahasa lisan, sedangkan bahasa tulis merupakan pencerminan kembali dari bahasa lisan itu dalam bentuk simbol-simbol tertulis. Komunikasi lisan dapat disampaikan melalui sarana media massa elektronik, sedangkan komunikasi tulis penyampaiannya melalui sarana media massa cetak.
Media massa cetak (pers) merupakan salah satu sarana penyampaian informasi yang efektif yang mampu menjangkau cukup banyak pembaca di semua lapisan masyarakat. Dengan kata lain, media massa sesungguhnya berada di tengah realitas sosial yang sarat dengan berbagai kepentingan, konflik, dan fakta yang kompleks dan beragam. Menurut Louis Althusser (dalam Sobur, 2004:30), media massa sebagaimana lembaga-lembaga pendidikan, agama, seni, dan kebudayaan, merupakan bagian dari alat kekuasaan negara yang bekerja secara ideologis guna membangun kepatuhan khalayak terhadap kelompok yang berkuasa. Hal tersebut didukung oleh Sobur (31:2004) yang mengungkapkan bahwa sebagai suatu alat untuk menyampaikan berita, penilaian, atau gambaran umum tentang banyak hal, ia mempunyai kemampuan untuk berperan sebagai institusi yang dapat membentuk opini publik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa media massa bukan sesuatu yang bebas, independen, tetapi memiliki keterkaitan dengan realitas sosial.
Sebagai saluran komunikasi politik dan sosial, media massa berusaha menyampaikan informasi yang tepat kepada masyarakat. Maka dari itu, media massa dituntut untuk menyampaikan informasi yang netral dan berimbang kepada khalayak pembaca. Namun, media massa juga merupakan produsen informasi politik dan sosial yang harus setia kepada “pemilik” media yang menaunginya.
Dari sudut pandang inilah analisis wacana kritis berpendapat bahwa tidak ada media massa yang “benar-benar” netral. Hal ini juga dikemukakan oleh Purnomo (2007:2) bahwa media massa berada di bawah kepemilikan perorangan atau organisasi, dikelola oleh sekelompok pengelola, dan akhirnya dibaca oleh sekelompok pembaca tertentu pula. “Media bukanlah saluran bebas dan netral. Media justru dimiliki oleh kelompok tertentu dan digunakan untuk mendominasi kelompok yang tidak dominan” (Eriyanto, 2001:48). Dapat dipahami bahwa di setiap proses produksi, distribusi hingga konsumsi informasi terdapat kepentingan lain yang harus dipenuhi oleh media massa. Alasan tersebut yang membuat media massa menjadi tidak benar-benar netral atau objektif, tetapi “berpihak”.
Telah dibahas sebelumnya bahwa setiap wacana dalam media massa mengembangkan ideologi penulis atau pemroduksinya. Hal ini karena teks, pencakaran, dan lainnya adalah bentuk dari praktik ideologi atau pencerminan dari ideologi tertentu (Eriyanto, 2001:13). Hal tersebut juga didukung oleh van Zoest dalam Sobur (2004:60) yang berpendapat bahwa sebuah teks tak pernah lepas dari ideologi dan memiliki kemampuan untuk memanipulasi pembaca ke arah suatu ideologi. Oleh karena itu, ideologi “pemilik” suatu media dapat tercermin dari tulisan di media tersebut baik berupa berita maupun opini, bahkan karangan khas (features). Ideologi dapat ditelusuri melalui berbagai aspek tulisan, skema, penataan topik, penggunaan bahasa, sampai pada pemanfaatan grafika, seperti ukuran huruf, warna dan tata letak. Inilah yang menjadi objek kajian analisis wacana kritis pada media massa cetak.
Media massa lokal merupakan subsistem dari politik media massa nasional ataupun global. Faktanya, beberapa media massa terbitan Palembang secara resmi berafiliasi pada kelompok penerbitan nasional, seperti halnya surat kabar Sriwijaya Pos yang tergabung dalam kelompok Kompas Gramedia dan Sumatera Ekspres yang tergabung dalam kelompok Jawa Pos. Dari kenyataan tersebut, dapat dipahami bahwa koran lokal pun tidak bebas dari “ideologi” karena ia diproduksi, disebarluaskan, dan diterima oleh pihak-pihak tertentu dengan sudut pandang dan ideologi tertentu pula. Tentu saja ideologi yang tersembunyi dalam surat kabar lokal tersebut dapat mencerminkan ideologi dengan aspirasi lokal, tetapi dapat juga mencerminkan ideologi nasional dan global.
Salah satu contoh bagaimana dua surat kabar yang berbeda yaitu, Sumatera Ekspres edisi Kamis, 1 Maret 2007 dan Sriwijaya Pos edisi Rabu, 16 Mei 2007 mengisahkan riwayat rokok kretek yang bermula dari kota Kudus, Jawa Tengah dengan cara yang berbeda pula. Sumatera Ekspres menulis feature dengan judul “Djarum Sumbang Pemerintah Rp 6,99 Triliun Pertahun” dengan subjudul “Journalist Out PT Djarum Kudus”. Sementara itu, Sriwijaya Pos menyajikan judul “Kudus Identik dengan Rokok Kretek”. Dari kedua judul feature tersebut, dapat dijelaskan bahwa Sriwijaya Pos lebih netral. Feature di dalamnya menceritakan sejarah ditemukannya rokok kretek pertama kali hingga berdirinya PT Djarum di Kudus, sedangkan Sumatera Ekspres cenderung “berpihak” pada PT Djarum dengan memberikan penekanan pernyataan bahwa setiap tahunnya PT Djarum selalu memberikan penghasilan cukai untuk pemerintah sebesar Rp 6,99 triliun. Dapat disimpulkan bahwa terdapat “maksud” terselubung yang disampaikan melalui penulisan feature tersebut.
Analisis wacana kritis (AWK) adalah salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk menganalisis teks media. Dalam makalahnya, Purnomo (2006:3) menyatakan, “Apabila analisis wacana yang hanya difokuskan pada penggunaan bahasa alamiah dengan analisis semata-mata bersifat linguitis, AWK berusaha menjelaskan penggunaan bahasa dikaitkan dengan perspektif disiplin lain, seperti politik, gender, dan faktor sosilogis lain”. Faktanya, AWK merupakan pengembangan dari analisis wacana (biasa) yang melihat lebih dalam makna yang tersembunyi dari suatu teks.
Penelitian mengenai analisis wacana pada media massa telah dilakukan sebelumnya oleh beberapa mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Unsri, di antaranya Nauval dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Wacana Teks Berita di Sumatera Ekspres Edisi Januari—Maret 2003” dan Risnawati yang pada tahun 2006 lalu mengangkat judul “Analisis Wacana Berita Kriminal terhadap Wanita pada Sumatera Ekspres Periode September—Desember 2005: Kajian Stilistik”. Perbedaan keduanya terletak objek yang diteliti. Risnawati membahas analisis wacana secara lebih spesifik dengan memfokuskan kajiannya mengenai kasus kejahatan terhadap kaum perempuan, sedangkan Nauval cenderung mengamati topik berita kekerasan terhadap wanita dengan segala permasalahan yang kompleks seperti, kekerasan seksual, fisik, ekonomi, dan psikis. Namun demikian, keduanya menggunakan harian lokal Sumatera Ekspres sebagai media kajiannya.
Dari pemaparan di atas, diketahui bahwa penelitian mengenai analisis wacana kritis karangan khas (feature) pada media massa cetak terbitan Palembang edisi Maret—Mei 2007 belum pernah dilakukan sebelumnya. Berdasarkan alasan itu, peneliti tertarik mengadakan penelitian mengenai kajian tersebut.
Peneliti memilih karangan khas (feature) sebagai objek penelitian dengan mempertimbangkan beberapa alasan. Pertama, karangan khas dalam pers mempunyai keunggulan antara lain; 1) karangan khas memuat tulisan pers lebih bervariasi dan mempunyai daya pesona untuk lebih menarik perhatian pembaca; 2) bermanfaat untuk mengawetkan aktualitas peristiwa berita (informasi); 3) mempunyai dampak positif dalam pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia; tercermin dalam perbendaharaan kata-kata berciri sastra, isi cerita sastra (legenda, mitos dan sebagainya), gaya bahasa dan gaya penceritaan dalam menulis karangan pers dan ragam jurnalistik sastra” (Kurnia dalam Sudaryanto, 1997:249). Feature adalah menu penunjang dalam surat kabar atau media massa. Walaupun sifatnya hanya sebagai pelengkap, namun dengan gaya penyajian yang diperkuat dengan alur dan pemantik feature mampu mengungkapkan sisi lain di balik peritiwa yang terjadi yang dapat menyentuh perasaan pembaca. Berbeda dengan berita yang hanya melaporkan fakta aktual dengan cara “tembak langsung” (to the point).
Kedua, feature merupakan fakta yang ditulis dengan gaya sastra (realita objektif). Feature menyajikan sisi yang berbeda di balik berita yang menjadi sorotan pada saat itu dan ditampilkan dengan gaya menulis cerpen. Kurnia (2002:205) menyatakan bahwa pengaruh sastra menyebabkan judul berita/laporan dipikirkan masak-masak karena dengan membaca judul diharapkan pembaca akan tertarik untuk membaca isi. Masih menurut Kurnia (2002:220), “Teknik penulisan feature mengandaikan adanya jalinan yang padu, bagian demi bagian, dari awal sampai akhir tulisan”. Dari pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa feature sangat mengutamakan pemilihan topik, urutan kejadian, penggunaan bahasa, pilihan kata, sampai pada pemakaian huruf dan tata letak. Tentu saja hal ini bersinggungan dengan sudut pandang analisis wacana kritis yang mengkaji teks media mulai dari struktur visual dan grafis hingga pada maksud (ideologi) yang terselubung di dalamnya.
Dari beberapa surat kabar lokal yang terbit di Palembang, peneliti memilih Sumatera Ekspres, Sriwijaya Pos, Palembang Pos, Transparan, dan Berita Pagi sebagai sumber data penelitian. Kelimanya dianggap sudah mencakup koran harian yang terbit di Palembang yang memuat karangan khas (feature) sebagai salah satu menunya dengan “pemilik” yang beragam, tiras yang beragam, dan dengan segmen pembaca yang beragam.
Waktu penerbitan yang menjadi fokus pengambilan data adalah periode Maret—Mei 2007. Hal itu disebabkan karena dalam jangka waktu tiga bulan tersebut banyak peristiwa yang menjadi topik perbincangan utama di kalangan publik. Mulai dari terbakarnya pesawat Garuda di Bandara Adisucipto Yogyakarta, kasus IPDN, kasus penembakan di Virginia Tech yang menewaskan seorang mahasiswa asal Indonesia, sampai pada pembentukan kabupaten Empat Lawang. Rentetan peristiwa yang terjadi dalam tiga bulan tersebut tidak hanya menjadi sorotan masyarakat Palembang, tetapi juga Indonesia, bahkan dunia, sehingga banyak karangan khas yang mengangkat topik yang sedang hangat diperbincangkan masyarakat. Dengan demikian, hal tersebut berkaitan dengan pemaparan sebelumnya yang menegaskan bahwa ideologi yang tersembunyi dalam wacana di sebuah media massa lokal tidak hanya mencerminkan ideologi dengan aspirasi lokal, tetapi juga nasional, dan global.

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 249 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: