Beranda > Skripsi Biologi > PENGARUH PENDEKATAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT (STM) PADA PROSES PEMBELAJARAN IPA BIOLOGI MATERI EKOSISTEM TERHADAP PENGUASAAN

PENGARUH PENDEKATAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT (STM) PADA PROSES PEMBELAJARAN IPA BIOLOGI MATERI EKOSISTEM TERHADAP PENGUASAAN

Desember 21, 2009

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) dan sikap positif siswa kelas VII SMP N 5 Wates pada proses pembelajaran biologi materi ekosistem. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui pengaruh pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) pada proses pembelajaran IPA biologi materi ekosistem terhadap peningkatan penguasaan konsep siswa dibandingkan dengan yang tidak menggunakan pendekatan STM, dan (2) mengetahui jumlah siswa yang memunculkan sikap positif melalui pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) pada materi ekosistem.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VII SMP N 5 Wates Kulon Progo tahun ajaran 2007/2008 yang terdiri dari 5 kelas. Sampel penelitian ini ada 2 kelas dengan perincian satu kelas (VIID) sebagai kelas eksperimen yang menerapkan pendekatan STM dan satu kelas (VIIC) sebagai kelas kontrol yang tidak menggunakan pendekatan STM. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan Random Sampling. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (Quasi Experiment) dengan desain penelitian yang digunakan adalah Pretest-Postest Control Group Design.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) peningkatan penguasaan konsep siswa materi ekosistem menggunakan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) lebih tinggi dibandingkan kelas yang tidak menggunakan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM), dan (2) jumlah siswa yang memunculkan sikap positif melalui pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) materi ekosistem lebih tinggi dibandingkan kelas yang tidak menggunakan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM.

Kata kunci : Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat, Penguasaan Konsep, Sikap Siswa

Gerakan reformasi dalam pembelajaran sains dan teknologi di sekolah, tiada lain menjadikan warga negara melek akan sains dan teknologi (scientific and technological literacy) sebagaimana apa yang dilakukan dan telah dimulai dalam dua dekade terakhir oleh negara-negara maju Uus Toharudin, 2007:2). Di SMP N 5 Wates, program STM belum dikenal secara meluas oleh guru-guru sains di sekolah sehingga belum menjadi suatu program nyata yang dapat diterapkan pada proses pembelajaran.
Perkembangan Iptek yang semakin pesat perlu perhatian oleh guru dan peserta didik. Dalam hal ini peserta didik perlu dipersiapkan untuk mengenal, memahami, dan menguasai Iptek dalam rangka meningkatkan kualitas hidupnya. Persiapan seawal mungkin sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan di masa depan yang semakin meningkat. Berbagai tantangan muncul, antara lain menyangkut peningkatan kualitas hidup, pemerataan hasil pembangunan, partisipasi masyarakat, dan kemampuan untuk mengembangkan sumber daya manusia. Pendidikan IPA sebagai bagian dari pendidikan umumnya memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan, khususnya di dalam menghasilkan peserta didik yang berkualitas, yaitu manusia yang mampu berfikir kritis, kreatif, logis dan berinisiatif dalam menanggapi isu di masyarakat yang diakibatkan oleh dampak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Saat ini, Iptek sudah mengalami peningkatan, namun pembelajaran IPA di SMP masih didominasi dengan penggunaan metode ceramah atau metode yang masih konvensional yang kegiatannya lebih berpusat pada guru (teacher centered). Dalam hal ini tentu saja aktivitas siswa dapat dikatakan hanya mendengarkan penjelasan guru, mencatat hal-hal yang dianggap penting sehingga siswa cenderung dituntut untuk membenarkan apa yang dikatakan oleh guru tanpa usaha untuk membuktikan kebenarannya.
Dalam proses pembelajaran guru hanya menjelaskan IPA sebatas produk (yang sudah ada) dan sedikit proses tanpa pembuktian. Salah satu alasan yang menyebabkan adalah banyaknya materi yang harus dibahas dan diselesaikan berdasarkan kurikulum yang berlaku. Padahal, dalam membahas IPA tidak cukup hanya menekankan pada produk, tetapi yang lebih penting adalah proses untuk membuktikan atau mendapatkan suatu teori atau hukum. Oleh karena itu, metode, pendekatan dan alat peraga/praktikum sebagai alat media pendidikan untuk menjelaskan IPA sangat diperlukan. Tujuan pembelajaran IPA di SMP secara umum adalah agar siswa memahami konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari, memiliki keterampilan tentang alam sekitar untuk mengembangkan pengetahuan tentang proses alam sekitar, mampu menerapkan berbagai konsep IPA untuk menjelaskan gejala alam dan mampu menggunakan teknologi untuk memecahkan masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu cara untuk dapat menciptakan sumber daya manusia berkualitas, guru dalam mengajar dapat menggunakan beberapa metode dan pendekatan. Dalam hal ini, salah satu pendekatan yang sesuai dengan perkembangan Iptek adalah pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM), karena pendekatan ini memungkinkan siswa berperan aktif dalam pembelajaran dan dapat menampilkan peranan sains dan teknologi di dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan sains dengan pendekatan STM adalah suatu bentuk pembelajaran yang tidak hanya menekankan pada penguasaan konsep-konsep sains saja tetapi juga menekankan pada peran sains dan teknologi di dalam kehidupan masyarakat untuk memecahkan isu-isu di dalamnya. Dalam hal ini, Poedjiadi (1994:9) berpendapat bahwa belajar IPA melalui isu-isu sosial di masyarakat yang ada kaitannya dengan IPA dan teknologi dirasakan lebih dekat dan belajar IPA melalui isu-isu masyarakat yang ada kaitannya dengan IPA dan teknologi dirasakan lebih punya arti dibandingkan dengan konsep-konsep dan teori IPA itu sendiri.
Selanjutnya, Poedjiadi (1994: 9) menyatakan pendekatan STM menitikberatkan pada penyelesaian masalah dan proses berpikir yang melibatkan transfer jarak jauh. Artinya menerapkan konsep-konsep yang diperoleh di sekolah pada situasi luar sekolah yaitu yang ada di masyarakat. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM memiliki ciri yang paling utama yang dilakukan dengan memunculkan isu sosial di awal pembelajaran dan guru sebelumnya sudah memiliki isu yang sesuai yang akan diajarkan.
Dengan menggunakan pendekatan STM dalam pembelajaran IPA siswa tidak hanya sekedar menerima informasi dari guru saja, karena dalam hal ini guru sebagai motivator dan fasilitator yang mengarahkan siswa agar dapat memberikan saran-saran berdasarkan hasil pengamatannya di masyarakat. Menggunakan pendekatan STM dalam pembelajaran IPA dimaksudkan agar siswa memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kepeduliannya terhadap masalah yang dihadapi masyarakat. Untuk itu, siswa terjun langsung ke masyarakat untuk mencari informasi sebagai dasar untuk menemukan jawaban dari masalah yang dihadapi masyarakat.
Menurut Yanger dan Blunck (Tedjo Susanto, 2001:45) dari hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa-siswa yang belajar sains dengan pendekatan STM dapat menguasai konsep sebanyak siswa-siswa yang belajar secara konvensional, dan menyimpan lebih lama konsep-konsep tersebut di dalam struktur kognitif mereka. Adapun keefektifan STM dalam penguasaan konsep adalah sebagai berikut: 1) Pendekatan STM sama efektifnya seperti pendekatan lain untuk penguasaan konsep di semua jenjang, 2) Pendekatan STM efektif untuk menstimulasi siswa-siswa mempelajari konsep-konsep, 3) Pendekatan STM untuk jangka pendek baik untuk penguasaan konsep, dan 4) Siswa-siswa STM mendapatkan nilai sebaik siswa-siswa konvensional dalam tes standart. Untuk menindaklanjuti hasil penelitian tersebut, perlu adanya penelitian ulang untuk mengetahui efektifitas pendekatan STM terhadap penguasaan konsep. Karena hasil penelitian tersebut belum tentu sama jika dilakukan penelitian di sekolah lain misalnya di SMP N 5 Wates,
Hasil observasi terhadap proses pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti dan pada waktu melaksanakan PPL di SMP N 5 Wates, dapat diamati bahwa sistem pembelajaran yang diterapkan oleh guru biologi masih konvensional dan belum menggunakan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM). Selain itu, mahasiswa juga melakukan observasi terhadap pembelajaran yang dilakukan oleh siswa kelas VII. Guru yang mengajar kelas VII tersebut bukan dari latar belakang biologi tetapi fisika. Hal ini dapat terjadi karena di SMP N 5 Wates sudah menerapkan sistem IPA Terpadu sehingga guru fisika harus mampu mengajarkan biologi, demikian sebaliknya. Guru menyadari bahwa pengalaman mengajarkan biologi masih baru dan masih perlu belajar sehingga metode ataupun pendekatan yang digunakan masih terbatas.
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan materi ekosistem termuat dalam standar kompetensi yaitu memahami saling ketergantungan dalam ekosistem dan kompetensi dasar yaitu menentukan ekosistem dan saling hubungan antara komponen ekosistem. Mengingat materi ekosistem sangat dekat dengan lingkungan siswa, maka materi ini dapat digunakan dalam proses pembelajaran dengan pendekatan STM. Proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa akan menjadi lebih bermakna, sebab siswa dihadapkan dengan obyek dan isu/masalah secara lengsung yang ditemui dalam kehidupan sehari-harinya.
Atas dasar inilah maka penelitian ini mengangkat judul tentang “Pengaruh Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) Pada Proses Pembelajaran IPA Biologi Materi Ekosistem Terhadap Penguasaan Konsep dan Sikap Positif Siswa Kelas VII SMP N 5 Wates”.

About these ads
Kategori:Skripsi Biologi
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 249 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: