Beranda > Skripsi Bahasa Indonesia > Sebuah Alternatif Bahan Ajar Menulis Paragraf Induktif yang Kontekstual untuk Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Cibinong

Sebuah Alternatif Bahan Ajar Menulis Paragraf Induktif yang Kontekstual untuk Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Cibinong

Desember 21, 2009

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan profil desa Pamoyanan terutama tentang kegiatan pendidikan,untuk ini terlebih dahulu penulis menyusun bahan ajar menulis paragraf induktif yang kontekstual untuk siswa kelas VII SMP Nnegeri 1 Cibinobg, keterbacaan bahan ajar ini diuji bagi siswa kelas VII SMP Negeri 1 Cibinong.
Teori yang digunakan adalah teori tentang bahan ajar, terutama tentang sistematika penyusunan bahan ajar. Teori berikutnya tentang paragraf induktif, terutama tentang cirri-ciri paragraf induktif dan syarat-syarat paragraf induktif. Teori yang lainnya tentang pembelajaran kontekstual yang meliputi komponen, karakteristik, dan langkah-langkah pembelajaran kontekstual.
Metode yang digunakan yaitu metode deskripsi, sedangkan teknik pengumpulan data yaitu studi pustaka, observasi, dan tes isi rumpang (prosedur klos). Populasi penelitian adalah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Cibinong, sedangkan sampel penelitian adalah siswa kelas VII-B SMP Negeri 1 Cibinong sebanyak sebanyak 39 siswa terdiri atas 20 siswa laki-laki dan 19 siswa perempuan. Sampel diambil secara acak dengan memperhatikan homogenitas berdasarkan usia, kepandaian, maupun jenis kelamin.
Hasil pengolahan data dapat disimpulkan bahwa bahan ajar disusun secara kontekstual dengan menggunakan materi berasal dari lingkungan siswa. Materi tersebut berupa lingkungan siswa SMP Negeri 1 Cibinong, yaitu kegiatan pendidikan di desa Pamoyanan. Bahan ajar yang disusun secara kontekstual adalah untuk kompetensi menulis paragraf induktif bagi siswa kelas VII SMP. Bahan ajar menulis paragraf induktif yang kontekstual,memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Bahan ajar dapat dibaca dan dipahami dengan mudah oleh siswa. Siswa dapat membaca bahan ajar secara mandiri, dengan persentase keterbacaan mencapai 60,40 %.

Dunia pendidikan di Indonesia mengalami babak baru dalam paradigmanya. Perubahan paradigma tersebut dapat dilihat dari berbagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Secara yuridis peningkatan kualitas pendidikan dilakukan dengan merevisi undang-undang nomor 2 tahun 1989, menjadi undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 1 ayat (1) undang-undang nomor 20 tahun 2003 menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang efektif agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Sementara dari segi kurikulum telah terjadi beberapa kali perubahan. Mulai dari kurikulum 1974, kurikulum 1984, krikulum 1994 dengan suplemen tahun 1999, kurikulum 2004 dikenal dengan kurikulum berbasis kompetensi, yang kemudian dilanjutkan dan disempurnakan menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada tahun 2006. Perubahan kurikulum dilakukan pemerintah dalam upaya penyempurnaan kurikulum yang sudah ada dan merupakan penyesuaian dengan tuntutan kehidupan. Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa kurikulum harus sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dilaksanakan berdasarkan prinsip bahwa potensi, perkembangan, dan kondisi peserta didik diarahkan untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan.
Pembelajaran pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan difokuskan kepada pengembangan kemampuan peserta didik untuk menguasai berbagai kompetensi yang tertuang dalam standar isi. Guru juga dituntut untuk memiliki keterampilan dalam mengolah bahan pembelajaran. Sosok guru sebagai pembelajar harus lebih kreatif dan inovatif, sehingga guru sebagai orang yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran benar-benar memiliki kualitas. Tanpa bantuan guru, kemampuan dan potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik tidak akan berkembang secara optimal.
Keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh peserta didik terdapat dalam standar isi mata pelajaran Bahasa Indonesia, terdiri dari empat aspek, yakni mendengarkan, membaca, berbicara, dan menulis. Pada pelaksanaanya keempat keterampilan berbahasa tersebut tidak berdiri sendiri melainkan berhubungan antara satu dengan yang lainya. Seperti yang dikatakan oleh Tarigan, (1985: 1) bahwa keempat keterampilan berbahasa pada dasarnya merupakan satu kesatuan, merupakan catur tunggal.
Khususnya dalam kegiatan menulis, komunikasi yang terjalin ditandai dengan sampainya gagasan penulis kepada pembaca secara tepat. Untuk itu dituntut berbagai kemampuan diri peserta didik setelah diberikan pengetahuan baik didalam maupun diluar kelas. Kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan diantaranya kemampuan menguasai gagasan, kemampuan menguasai bentuk karangan, kemampuan menggunakan gaya, dan kemampuan menggunakan ejaan dan tanda baca.
Penulisan paragraf merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan menulis. Hal ini dikarenakan perwujudan dari karangan adalah rangkaian paragraf yang saling berhubungan. Paragraf merupakan inti sebuah pikiran dalam karangan. Pokok pikiran tersebut dikemas dalam beberapa kalimat yang saling berhubungan mulai dari kalimat pengenal, kalimat topik, kalimat penjelas, dan kalimat penutup. Kalimat-kalimat tersebut membentuk satu-kesatuan yang saling berhubungan sehingga ide pokok yang disajikan menjadi jelas.
Kemampuan menulis paragraf harus dikuasai peserta didik agar dapat menulis dengan baik dan benar. Untuk mencapai kompetensi tersebut, diperlukan bahan ajar yang sesuai. Guru sebagai pelaksana pendidikan dan pengajaran di sekolah, harus lebih kreatif dalam menentukan bahan ajar kebahasaan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan pesera didik. Oleh karena itu bahan ajar yang disusun harus berada pada konteks peserta didik, dengan melakukan pendekatan pembelajaran kontekstual.
Pembelajaran kontekstual (Cotextual Teaching and Learning) merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan keterkaitan materi dan aktivitas pembelajaran dengan lingkungan sosial, budaya, dan geografis tempat peserta didik berada, dan karakteristik peserta didik itu sendiri. Guru dapat menghadirkan suasana nyata ke dalam kelas. Guru juga dapat mendorong peserta didik untuk membuat hubungan antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dilakukan penelitian tentang penyajian bahan ajar dalam menulis paragraf. Adapun judul penelitian ini sangat erat sekali hubungannya dengan penulis yang dalam hal ini dengan pekerjaan penulis sebagai guru dan juga mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Dengan demikian maka penulis merumuskan judul penelitian ini yakni Sebuah Alternatif Bahan Ajar Menulis Paragraf Induktif yang Kontekstual untuk Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Cibinong.
Tingkat keterbacaan terhadap bahan ajar tentang menulis paragraf induktif yang disajikan akan diketahui berdasarkan analisis terhadap nilai tes peserta didik. Hasilnya menggambarkan tingkat kesesuaian bahan ajar tersebut bagi peserta didik kelas VII Sekolah Menengah Pertama.

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 257 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: