Beranda > Skripsi Manajemen > ANALISIS SITUASI PERSAINGAN DAN STRATEGI PEMASARAN PADA PD. BPR BKK DI KABUPATEN BANYUMAS

ANALISIS SITUASI PERSAINGAN DAN STRATEGI PEMASARAN PADA PD. BPR BKK DI KABUPATEN BANYUMAS

Januari 3, 2010

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah strategi pemasaran yang dilaksanakan BPR BKK di Kabupaten Banyumas sesuai dengan situasi persaingan yang dihadapi, untuk mengetahui apakah ada perbedaan persepsi manajemen dengan nasabah terhadap kinerja pelayanan kredit, untuk mengetahui apakah kinerja BPR BKK sudah sesuai dengan kepentingan/ harapan nasabah dan untuk mengetahui apakah ada perbedaan posisi keunggulan bersaing antara BPR BKK dengan pesaingnya. Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah :
1. Strategi pemasaran BPR BKK di Kabupaten Banyumas belum sesuai dengan situasi persaingan yang dihadapi.
2. Terjadi perbedaan antara persepsi manajemen dengan nasabah terhadap kinerja pelayanan kredit BPR BKK di Kabupaten Banyumas.
3. Kinerja BPR BKK di Kabupaten Banyumas belum sesuai dengan kepentingan/harapan nasabah.
4. Terdapat perbedaan posisi persaingan antara BPR BKK dengan pesaingnya.

Lembaga keuangan perbankan memiliki fungsi yang penting dalam perekonomian suatu negara. Fungsi tersebut adalah fungsi intermediasi keuangan, artinya bank sebagai lembaga perantara dalam penghimpunan dana masyarakat dalam bentuk simpanan dan penyalurkan dana ke masyarakat dalam bentuk pinjaman/kredit.
Menurut Undang-Undang RI No. 7 tahun 1992 yang telah disempurnakan dengan Undang-Undang RI. No. 10 tahun 1998 bank dibedakan menjadi dua kategori yaitu bank umum dan bank perkreditan Rakyat (BPR).
Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvesional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sedang BPR adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Dalam penghimpunan dana BPR hanya diperbolehkan menghimpun dana masyarakat berupa simpanan dalam bentuk tabungan dan deposito, dan dilarang membuka simpanan giro, ikut kliring dan transaksi valuta asing.
Dalam era otonomi daerah BPR memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka mengembangkan usaha sektor usaha mikro, usaha kecil dan menengah (UKM).
Dalam UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia ditegaskan bahwa peran BI dalam pengembangan UKM dari sisi pembiayaan melalui kredit likuiditas dihapuskan dan terbatas pada bantuan dalam hal teknis untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan perbankan mengenai UKM melalui penyediaan informasi perbankan, pelatihan dan penelitian-penelitian. Peran pembiayaan UKM berpindah/diserahkan kepada bank umum, BPR dan lembaga keuangan lainnya.
Dari sisi perbankan, UKM dipandang sebagai sektor yang menguntungkan untuk dibiayai, terbukti dari semakin meningkatnya pertumbuhan kredit UKM. Berdasarkan Statistik Ekonomi Keuangan Daerah yang diterbitkan BI Jawa Tengah tahun 2004, dalam periode Maret 2003 sampai dengan Maret 2004, kredit usaha kecil (KUK) yang dianggap bisa mewakili UKM di kabupaten Banyumas secara umum tumbuh sebesar 39,76 persen .
Ada beberapa faktor penyebab, Pertama, tingkat kemacetan relatif kecil. Kedua, mendorong terjadinya penyebaran resiko , jumlah pinjaman dengan nilai nominal kecil memungkinkan bank memperbanyak nasabah, sehingga dana tidak terkonsentrasi pada satu kelompok sektor usaha. Ketiga, suku bunga pada tingkat bunga pasar bukan merupakan masalah pokok bagi UKM, tetapi tersedianya dana pada saat, jumlah dan sasaran yang tepat serta prosedur yang sederhana lebih penting dari subsidi bunga.
Keadaan demikian merupakan daya tarik lembaga keuangan khususnya perbankan untuk memasarkan produk pembiayaan/kredit pada sektor UKM. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sebagai lembaga keuangan yang memiliki segmen pasar utamanya sektor UKM akan menghadapi situasi persaingan yang semakin ketat dalam dimensi yang semakin luas.
Menurut Kartajaya (1998:17 ), perubahan situasi persaingan dipengaruhi oleh tiga kekuatan, yaitu Customer (pelanggan), Competitor (pesaing), dan Change (perubahan). Oleh karena itu analisis situasi persaingan sangat penting dilakukan oleh BPR. David W.Craven (1996:187) menyatakan, analisis terhadap situasi persaingan akan membantu menejemen untuk memutuskan dimana akan bersaing dan bagaimana menentukan strategi pemasaran yang tepat untuk menghadapi pesaingnya pada setiap pasar sasaran
Untuk menghadapi persaingan BPR harus menyusun strategi pemasaran yang tepat. Tugas strategi pemasaran kompetetif menurut Malcolm (1992:2) adalah untuk memindahkan bisnis dari posisi sekarang ke posisi kompetitif yang lebih kuat. Selanjutnya Kartajaya (2004:7) mengemukakan ada sembilan elemen utama dalam penyusunan strategi yaitu Segmentation, Targeting, Positioning, Differentiation, Marketing mix, Selling, Brand, service dan process. Kesembilan elemen merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan dan mempengaruhi.
Kualitas strategi pemasaran akan dapat mengantarkan BPR pada keberhasilan. Keberhasilan perusahaan diukur dengan seberapa mampu memenuhi kepuasan nasabah dengan cara yang lebih efektif dan efisien dibanding pesaing. Dengan mengetahui persepsi nasabah dalam menilai suatu produk/merek, dapat diketahui harapan mereka yang harus dipenuhi.
Persepsi nasabah menjadi masalah yang sangat penting untuk menempatkan posisi produk berdasarkan atributnya, karena persepsi merupakan faktor dasar yang mampu mendorong nasabah melakukan pembelian atau membentuk perilaku nasabah.
Dalam penelitian yang dilakukan Bank Indonesia Purwokerto (2003) memberikan gambaran umum tentang persepsi UKM pada akses kredit ke bank umum, BPR, dan sumber informal. Faktor-faktor yang dipersepsikan adalah informasi layanan, prosedur pengambilan kredit, syarat yang diminta, jaminan, proses permohonan sampai pencairan, tingkat bunga kredit dan frekuensi pendampingan.
Perusahaan Daerah BPR BKK di Kabupaten Banyumas ada 25 BPR yang berada di 25 kecamatan. Dalam pemasaran produk pembiayaan/kredit menghadapi persaingan yang semakin ketat, dengan semakin bertambahnya jumlah bank umum, BPR, BMT dan sumber informal yang memasarkan produk pembiayaan pada sektor UKM.
Di pihak lain, berdasarkan data hasil monitoring tingkat kesehatan dan non performing loan PD BPR BKK Kabupaten Banyumas tahun 2003 sampai tahun 2005, pertumbuhan dalam penyaluran kredit telah menunjukkan penurunan. Pertumbuhan jumlah kredit 33,37 persen menjadi 27,07 persen, jumlah nasabah 3,29 persen menjadi – 4,45 persen.
Sedang menurut Teguh Budi Ichtiar (2004:91), dalam penelitian Analisa Rasio Keuangan Pada PD. BPR BKK di Kabupaten Banyumas, menyimpulkan bahwa setiap PD BPR BKK di Kabupaten Banyumas dalam mencapai ROA rata-rata 3,99 persen pertahun atau tergolong rendah dan kurang efisien jika mempertimbangkan perbedaan antara interest ratio yang besarnya 8,568 dengan bunga kredit yang mencapai 30 persen per tahun.
Dari hal-hal di atas diperlukan kajian terhadap situasi persaingan yang dihadapi Perusahaan Daerah BPR BKK dengan menganalisis secara obyektif faktor –faktor yang mempengaruhi situasi persaingan baik sikap dan perilaku konsumen, pesaing dan faktor perubahan. Selanjutnya mencari faktor-faktor yang dipersepsikan/dipertimbangkan nasabah dalam mengambil keputusan tentang kredit/ pinjaman. Faktor-faktor tersebut digunakan untuk mengetahui posisi pemasaran dalam persaingan dan menentukan strategi pemasaran yang sesuai dengan persaingan yang dihadapi.
Berdasarkan uraian tersebut di atas peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “ Analisis Situasi Persaingan dan Strategi Pemasaran Pada Perusahaan Daerah BPR BKK di Kabupaten Banyumas ”.

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 257 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: