Beranda > Skripsi Manajemen > PENGARUH ARUS KAS OPERASI, ARUS KAS INVESTASI, ARUS KAS PENDANAAN, DAN ROI (RETURN ON INVESMENT ) TERHADAP RETURN SAHAM (Studi p

PENGARUH ARUS KAS OPERASI, ARUS KAS INVESTASI, ARUS KAS PENDANAAN, DAN ROI (RETURN ON INVESMENT ) TERHADAP RETURN SAHAM (Studi p

Januari 3, 2010

Laporan arus kas dan rasio profitabilitas merupakan bagian dari laporan keuangan yang dapat berpengaruh terhadap perilaku investor, dimana memperoleh return merupakan tujuan utama aktivitas perdagangan para investor di pasar modal. Dalam berinvestasi, investor menggunakan informasi dari laporan keuangan sebagai dasar pengambilan keputusan dan untuk meminimalisasi resiko investasinya, karena dalam laporan keuangan dapat diperoleh informasi mengenai posisi keuangan perusahaan, aliran kas, dan informasi lainnya yang terkait dengan faktor yang mempengaruhi return saham. Variabel-variabel yang diduga berpengaruh terhadap tingkat return, antara lain: arus kas operasi, arus kas investasi, arus kas pendanaan, dan ROI (Return On Invesment). Sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis varibel-variabel yang berpengaruh signifikan terhadap return saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ).
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan menggunakan periode tahun penelitian terbaru yaitu dari tahun 2003 sampai 2005, yaitu sebanyak 145 perusahaan manufaktur. Penentuan sampel dari populasi menggunakan metode purposive sampling. Penelitian ini menggunakan data keuangan yang ada di Indonesian Capital Market Directory (ICMD) 2006 untuk tiga tahun secara berurutan dengan mendapatkan 59 perusahaan manufaktur sebagai sampel penelitian. Metode analisis yang digunakan untuk meguji hipotesis pada penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda, dimana uji hipotesis secara parsial dengan menggunakan uji t dan uji hipotesis secara simultan dengan menggunakan uji F.
Hasil pengujian secara parsial menunjukkan bahwa arus kas operasi, arus kas investasi, arus kas pendanaan tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Sedangkan ROI (Return On Invesment) berpengaruh signifikan terhadap return saham. Hasil pengujian secara simultan menunjukkan bahwa arus kas operasi, arus kas investasi, arus kas pendanaan, dan ROI (Return On Invesment) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap return saham. Koefisien determinasi yang didapat, adalah sebesar 4 persen return saham dapat dijelaskan oleh variabel independen dalam penelitian ini, sedangkan sebanyak 96 persen dijelaskan oleh faktor lain diluar model penelitian.

Dewasa ini pasar modal Indonesia berkembang sangat pesat, hal ini ditandai dengan melonjaknya jumlah saham yang ditransaksikan dan semakin tingginya volume perdagangan saham. Seiring dengan perkembangan yang pesat tersebut, kebutuhan akan informasi yang relevan dalam pengambilan keputusan investasi di pasar modal juga semakin meningkat.
Dalam pasar modal yang efisien, harga-harga saham mencerminkan semua informasi yang relevan dan pasar akan bereaksi apabila terdapat informasi baru. Salah satu informasi tersebut adalah informasi akuntansi khususnya laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan ini merupakan hasil akhir dari proses akuntansi yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan informasi dalam pengambilan keputusan investasi, karena dalam laporan keuangan tersebut dapat diperoleh informasi mengenai posisi keuangan perusahaan, aliran kas, dan informasi lainnya yang terkait dengan keputusan investasi. Bagi investor informasi dari laporan keuangan dapat digunakan sebagai salah satu dasar dalam pengambilan keputusan apakah mereka akan membeli, menahan atau menjual surat berharga yang dimilikinya karena memperoleh return merupakan tujuan utama aktivitas perdagangan para investor di pasar modal.
Ang (1997), menyatakan return adalah tingkat keuntungan yang dinikmati oleh investor atas tindakan investasi yang telah dilakukan. Return memungkinkan investor untuk membandingkan keuntungan aktual ataupun keuntungan- keuntungan yang diharapkan, yang disediakan oleh berbagai investasi pada tingkat pengembalian yang diinginkan. Dalam investasi saham, investor akan lebih memilih saham perusahaan yang memberikan tingkat keuntungan tertinggi. Di sisi lain, return pun memiliki peran yang sangat signifikan dalam menentukan nilai dari suatu investasi.
Laporan arus kas merupakan salah satu laporan dari laporan keuangan yang dapat berpengaruh terhadap perilaku investor. Salah satu tujuan dari pelaporan keuangan menurut Statment of Financial Accounting Concept (SFAC) No. 1 adalah menyediakan informasi bagi investor dan kreditor maupun pemakai potensial lainnya dalam pengambilan keputusan investasi dan kredit, serta dalam penaksiran mengenai jumlah, waktu, dan ketidakpastian dari penerimaan arus kas netto prospektif. Disamping itu arus kas juga berguna untuk meneliti kecermatan dari taksiran arus kas masa depan yang telah dibuat sebelumnya dan dalam menentukan hubungan antara profitabilitas dan arus kas bersih serta dampak perubahan harga (IAI, 2004). Suatu perusahaan apabila arus kasnya baik maka akan dapat menarik perhatian invetor untuk berinvestasi. Sehingga dapat dikatakan, bahwa informasi arus kas merupakan informasi penting yang dibutuhkan investor untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas bagi investor, maupun untuk membayar kewajiban perusahaan yang jatuh tempo serta kegiatan operasional perusahaan sehari-hari.
Dalam International Accounting Standard Committee (IASC), menyatakan bahwa setiap perusahaan perlu untuk menyediakan laporan arus kas dalam penyertaan laporan keuangan. Dalam rangka meningkatkan pengungkapan laporan keuangan Financial Accounting Standard Board (FASB) tertuang dalam SFAC No. 95 tentang Statement of Cash Flow dan di Indonesia oleh IAI (1994) merekomendasikan bagi perusahaan untuk memasukkan laporan arus kas sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan. Keputusan Bapepam No. Kep. 80/PM/96, yang tertanggal 17 januari 1996, juga menyatakan tentang kewajiban emiten menyertakan laporan arus kas dalam laporan keuangan berkala kepada Bapepam. Hal tersebut secara rinci dapat ditemukan pada lampiran keputusan Bapepam No. 1 butir c, yang menyatakan bahwa emiten wajib menyertakan laporan keuangan termasuk juga laporan arus kas.
Laporan laba rugi juga dapat memberikan informasi kepada investor mengenai kondisi suatu perusahaan. Laba rugi merupakan laporan yang mengukur keberhasilan operasi perusahaan selama periode tertentu. Dalam SFAC No. 4, selain untuk menilai kinerja manajemen, laba membantu untuk mengestimasi kemampuan laba yang representatif dalam jangka panjang, memprediksi laba dan menaksir risiko dalam investasi atau kredit. Laba sering kali digunakan sebagai ukuran kinerja, akan tetapi kinerja perusahaan tidak boleh diukur hanya dari laba yang diperoleh saja, karena laba belum mencerminkan aktiva yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut. Selain itu pengukuran prestasi dengan laba bersih jarang digunakan karena mempunyai kelemahan-kelemahan (Bekoui, 1993), yaitu: 1) dalam banyak hal, laba bersih adalah persentase tetap dari laba sebelum pajak, sehingga tidak ada manfaatnya memasukkan unsur pajak penghasilan, 2) Keputusan yang mempunyai dampak pada pajak penghasilan dibuat oleh kantor pusat, dan 3) profitabilitas pusat laba tidak mempengaruhi atau dipengaruhi oleh keputusan-keputusan tersebut pada butir (2) diatas. Oleh karena hal-hal tersebut maka ada ukuran kinerja yang lebih bermakna yang mengaitkan laba dengan aktiva yang digunakan yaitu dengan Return On Investment (ROI).
Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti (2002), mengemukakan bahwa Return On Investment (ROI) merupakan salah satu rasio profitabilitas yang menunjukkan seberapa banyak laba bersih yang bisa diperoleh dari seluruh kekayaan yang dimiliki perusahaan. Rasio ini mengukur efektivitas perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dumilikinya. Rasio ini merupakan rasio terpenting diantara rasio rentabilitas/profitabilitas yang lainnya. ROI merupakan rasio keuangan yang dominan mempengaruhi return saham, karena ROI merupakan earning power keuangan perusahaan. Dan semakin besar ROI menunjukkan kinerja yang semakin baik, karena tingkat pengembalian semakin besar (Ang, 1997). Weston dan Copeland (1995) menyatakan bahwa kebanyakan perusahaan yang memiliki pusat investasi mengevaluasi unit-unit usahanya dengan dasar ROI. Hal ini dikarenakan ada tiga keuntungan dari ROI. Pertama, ROI mendorong manajer untuk memperhatikan pada hubungan antara penjualan, cost, dan investasi. Kedua, ROI mendorong manajer untuk menghemat cost atau fokus pada efisiensi biaya. Ketiga, ROI mencegah investasi yang dipandang berlebihan. Selain itu, data ROI dapat diketahui oleh pesaing dan dapat dijadikan dasar perbandingan.
diketahui bahwa tingkat return pada perusahaan sampel selama periode 2003-2005 berfluktuasi mengikuti perubahan variabel-variabel yang mempengaruhinya, yaitu arus kas operasi, arus kas investasi, arus kas pendanaan, dan ROI. Melalui pemahaman apa yang terjadi pada faktor yang berpengaruh terhadap return saham, emiten berusaha meningkatkan nilai dan kinerjanya guna meningkatkan profitabilitas perusahaan untuk menarik para investor, karena tujuan utama investor dalam melakukan investasi adalah untuk mendapatkan return tertinggi. Tingkat return menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Emiten juga perlu menyajikan laporan keuangan, karena informasi dari laporan keuangan digunakan oleh investor sebagai dasar pengambilan keputusan investasi.
Penelitian mengenai pengaruh arus kas terhadap return saham telah banyak dilakukan, antara lain oleh Triyono dan Jogiyanto (2000), Agung Juliarto (2004), Linda dan Fadzli (2005). Mereka tidak berhasil membuktikan adanya pengaruh signifikan komponen arus kas terhadap return saham. Sedangkan penelitian yang lain, seperti Arie S. Rachim (2004), Ninna Daniati dan Suhairi (2006) berhasil membuktikan adanya pengaruh signifikan komponen arus kas terhadap return saham, kecuali arus kas operasi pada penelitian Ninna Daniati dan Suhairi (2006).
Penelitian mengenai pengaruh ROI terhadap return saham dilakukan oleh Sunarto (2000), yang berhasil membuktikan bahwa ROI berpengaruh signifikan terhadap return saham. Sementara penelitian Sholikhah Rohmah dan Rina Trisnawati (2004) tidak berhasil membuktikan adanya pengaruh signifikan ROI terhadap return saham.
Perlunya pembuktian kembali secara empiris mengenai pengaruh arus kas operasi, arus kas investasi, arus kas pendanaan, dan ROI terhadap return saham dengan adanya hasil-hasil penelitian yang kontradiktif tersebut telah mendorong dipilihnya topik penelitian ini dengan menguji kembali hubungan langsung antara variabel arus kas operasi, arus kas investasi, arus kas pendanaan, dan ROI terhadap return saham.
Penelitian ini mengacu pada penelitian Triyono dan Jogiyanto (2000) yang menguji hubungan kandungan informasi arus kas, komponen arus kas, dan laba akuntansi dengan harga atau return saham. Penelitian mengambil sampel 52 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta, yang telah mempublikasikan laporan auditan untuk tahun buku per 31 Desember 1995 dan 1996. Metode analisis yang digunakan adalah regresi model linier dengan pendekatan levels dan return. Dari hasil analisis menggunakan model levels menunjukkan bahwa total arus kas tidak mempunyai pengaruh yang signifikan dengan harga saham, laba akuntansi berpengaruh signifikan terhadap harga saham, terdapat perbedaan yang signifikan antara hubungan arus kas total dengan harga saham dan hubungan antara laba akuntansi dengan harga saham, dan pemisahan total arus kas ke dalam tiga komponen arus kas, yaitu arus kas operasi, investasi, dan pendanaan mempunyai pengaruh yang signifikan dengan harga saham. Sedangkan hasil penelitian dengan menggunakan model return diperoleh kesimpulan bahwa perubahan total arus kas dan perubahan laba akuntansi tidak mempunyai kandungan informasi dalam hubungannya dengan return saham, tidak ada perbedaan hubungan antara perubahan arus kas total dengan return saham, dan hubungan antara perubahan laba akuntansi dengan return saham, dan ketiga komponen arus kas juga tidak mempunyai pengaruh yang signifikan dengan return saham.
Perbedaaannya adalah pada penelitian ini dilakukan perluasan dari penelitian terdahulu dengan memasukkan ROI sebagai variabel independen, tidak menggunakan laba akuntansi, tidak menggunakan total arus kas melainkan memisahkan ketiga komponen arus kas, yaitu arus kas operasi, arus kas investasi, dan arus kas pendanaan dalam variabel independennya, serta memilih satu variabel dependen saja yaitu return saham, bukan harga atau return saham. Return yang digunakan adalah return total dalam setahun, bukan abnormal return. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang tedaftar di Bursa Efek Jakarta, yaitu sebanyak 145 perusahaan manufaktur. Penelitian ini menggunakan periode penelitian tahun terbaru, yaitu antara tahun 2003 sampai 2005, dan sampel diperoleh sebanyak 59 perusahaan manufaktur. Sampel ini lebih banyak dari penelitian Triyono dan Jogiyanto (2000) yang hanya memperoleh sampel sebanyak 52 perusahaan manufaktur. Metode analisis yang digunakan untuk meguji hipotesis pada penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda, dimana uji hipotesis secara simultan dengan menggunakan uji F dan uji hipotesis secara parsial dengan menggunakan uji t.
Alasan pemilihan penggunaan ROI adalah karena pada penelitian-penelitian terdahulu, belum ditemukan penelitian yang menggunakan ROI sebagai variabel independen disamping arus kas dalam menguji pengaruhnya terhadap return saham. Dan karena ROI merupakan ukuran kinerja yang lebih bermakna dibandingkan dengan laba akuntansi, dilihat dari keuntungan ROI serta kelemahan laba seperti yang telah dijelaskan di atas. Rasio ini merupakan rasio terpenting diantara rasio rentabilitas/profitabilitas yang lainnya. ROI merupakan rasio keuangan yang dominan mempengaruhi return saham, karena ROI merupakan earning power keuangan perusahaan. Alasan pemilihan satu variabel dependen yaitu return saham dan bukan harga saham, adalah karena return akan memberikan model estimasi yang lebih tepat. Hal ini dikarenakan harga saham akan memberikan bias terhadap reaksi investor, karena sifat harga saham yang relatif terhadap harga saham perusahaan lain. Dalam hal ini, artinya bahwa harga saham yang tinggi belum tentu mencerminkan kinerja saham yang lebih baik dibandingkan harga saham yang lebih rendah. Alasan pemilihan penggunaan return tahunan dan bukan abnormal return adalah agar perbedaan return yang dihasilkan akibat informasi nampak. Alasan pemilihan perusahaan manufaktur adalah karena perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yang sensitif terhadap adanya reaksi pasar sehingga dapat diketahui apakah hasil yang akan diperoleh akan sama atau berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya, dan untuk mendapatkan keberagaman dalam hasil pada penelitian yang dilakukan. Berdasarkan latar belakang, data, dan beberapa penelitian diatas, maka skripsi ini mengambil judul “Pengaruh Arus Kas Operasi, Arus Kas Investasi, Arus Kas Pendanaan, dan ROI (Return On Invesment) terhadap Return Saham (Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta Periode 2003-2005)”.

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 257 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: