Beranda > Skripsi Industri > IMPLEMENTASI TEKNOLOGI TEPAT GUNA DALAM PRODUKSI ANYAMAN BAMBU KEBEN

IMPLEMENTASI TEKNOLOGI TEPAT GUNA DALAM PRODUKSI ANYAMAN BAMBU KEBEN

Januari 10, 2010

Implementasi Teknologi Tepat Guna dalam produksi anyaman bambu keben merupakan suatu langkah yang dilakukan yang khususnya tepat diterapkan di desa, dimana untuk mengembangkan kreativitas pengerajin dalam upaya menserasikan berbagai faktor dalam penerapan Teknologi Tepat Guna, dimana faktor tersebut : alat, cara dan lingkungan kerja dengan kemampuan, kebolehan dan keterbatasan manusia pekerja. Penerapan konsep Teknologi Tepat Guna (TTG) dalam proses produksi kerajinan anyaman bambu keben di dusun Pucangan Desa Kayubihi Kecamatan Bangli Kabupaten Bangli masih tergolong manual, dimana dalam segi peralatan yang digunakan masih bersifat sederhana. Produksi kerajinan anyaman bambu keben tersebut memang peralatan modern seperti mesin-mesin belum bisa mengerjakan dalam hal penganyamannya, tetapi didalam memproses bambu sampai siap dianyam proses tersebut masih bisa dikerjakan dengan mesin, misalnya dalam pemotongan bambu, dan pembelahan atau dalam pemecahan bambu-bambu yang berukuran sampai ½ cm.
Di Dusun Pucangan penerapan teknologi tepat guna sudah dilakukan, karena teknologi tepat guna memiliki ciri-ciri, dimana dalam proses produksi kerajinan anyaman bambu keben berbahan lokal, bisa ditempatkan setempat lokal tersebut, dan dapat memberi nilai tambah bagi pengerajin anyaman bambu keben itu sendiri. Dalam penerapan teknologi tepat guna harus memperhatikan kriteria-kriteria, dimana kriteria tersebut menanamkan paham yang berorientasi kepada manusia yang terlatih dalam konsep pengembangan-pengembangan yang bisa melakukan inovasi-inovasi demi mensejajarkan diri dalam pemenuhan kebutuhan hidup, yang nantinya proses kerajinan anyaman bambu keben tersebut berjalan dengan lancar sesuai dengan kriteria-kriteria dari teknologi tepat guna. Dengan diterapkannya teknologi tepat guna produktivitas pengerajin dapat meningkat

Kerajinan anyaman bambu keben merupakan kerajinan yang berbasis industri kecil (Small Scale industry), dimana anyaman bambu keben tersebut sangat berguna dalam kehidupan masyarakat yang nantinya dapat memberi tambah bagi pengerajin maupun semua kalangan yang memakai keben tersebut. Keben merupakan nama lain dari sokasi atau alat yang digunakan dalam perlengkapan sembahyang bagi umat Hindu yang penggunaannya sebagai tempat sesajen atau banten, keben sangat praktis digunakan sesuai dengan keperluannya. Selain itu juga proses pembuatan keben sangat sederhana dan belum tersentuh teknologi, karena dalam proses pembuatannya lebih mengutamakan skill atau kreativitas pengerajin.
Anyaman bambu keben memiliki unsur seni bagi kehidupan di Bali, khususnya bagi umat Hindu dalam keperluan sehari-hari. Keben bentuknya sangat menarik, hal tersebutlah yang membuat anyaman bambu keben bertahan sampai sekarang ini, apalagi hasil dari produksi anyaman sangat indah yang diberikan pewarnaan yang berwarna-warni sehingga menambah minat konsumen untuk memakai anyaman keben dari bambu.
Keben atau yang lebih dikenal dengan sokasi, yang merupakan sarana umat Hindu sebagai tempat banten dalam persembahyangan, kini ditawarkan dalam bentuk dan bahan yang berbeda. Pengerajin sudah melakukan berbagai upaya atau melakukan perubahan yaitu, inovasi dalam proses perbaikan mutu kualitas keben agar peminat dari anyaman bambu tidak merasa bosan dan jenuh dengan hasil daripada anyaman bambu, maka dari itu keben dari bambu sudah bervariasi yang merupakan cikal bakal pengerajin yang merupakan warisan dari leluhur kemudian bisa diwariskan kembali.
Semula keben terbuat dari bambu yang dihaluskan, tapi kini sudah beralih ke bahan metal yaitu, aluminium. Tapi sayangnya, jenis keben ini kurang diminati konsumen karena sudah tersentuh teknologi. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan atau seperti yang diungkapkan salah seorang penjual sarana persembahyangan di Pasar Kumbasari, Ni Ketut Kerti. Menurutnya, keben jenis aluminium kurang diminati konsumen, mereka lebih tertarik dengan keben jenis yang berbahan bambu dengan variasi cat warna-warni berbentuk pola-pola tertentu. Karena keben yang terbuat dari bambu lebih indah dan mudah dibawa, dan keben dari bahan baku bambu tidak akan pecah seandainya keben tersebut jatuh. Berbanding terbalik dengan keben yang bahan bakunya dari metal, selain dapat mengeluarkan suara yang mengagetkan orang, juga akibatnya mudah penyok.
Sementara Wahyu, seorang pengerajin dan penjual keben di seputaran Jalan Nangka mengatakan, keben aluminium memang tergolong masih baru dipasaran. Masyarakat juga belum begitu mengetahui keberadaan keben ini. Itulah sebabnya keben jenis ini kurang diminati, karena konsumen lebih nyaman menggunakan keben dari anyaman berbahan baku bambu. Keben dari bahan aluminium ini merupakan barang kerajinan dari Singaraja dan sekarang sudah mulai dipasarkan di seluruh Bali. Proses pengerjaannya lumayan susah, karena harus melalui beberapa tahap untuk membentuk aluminium menjadi keben yang sempurna. Sedangkan keben dari bahan baku bambu sangat mudah dilakukan bagi yang sudah biasa melakukannya khususnya pengerajin di Dusun Pucangan Desa Kayubihi Kecamatan Bangli Kabupaten Bangli, karena disana merupakan mayoritas pengerajin bambu khususnya keben.
Untuk itulah kerajinan anyaman bambu keben sangat menarik jika dilakukan penelitian, disamping tepat guna juga dalam pengerjaannya sangat mudah dilakukan bagi yang sudah biasa melakukannya. Anyaman keben lebih mengandalkan bahan baku bambu dibanding rotan, karena dalam prosesnya lebih mudah menggunakan bambu, disamping tahan lama juga mudah untuk dianyam tentunya harga bahan baku lebih murah. Keben merupakan hasil kerajinan yang memiliki ketepatan guna dalam penggunaanya. Selain itu juga, anyaman bambu keben dapat memberi pemasukan bagi pengerajinnya untuk dapat meneruskan usahanyan dibidang kerajinan anyaman bambu.
Keben atau yang lebih dikenal dengan sokasi, yang merupakan sarana umat Hindu sebagai tempat banten dalam persembahyangan, kini ditawarkan dalam bentuk dan bahan yang berbeda. Pengerajin sudah melakukan inovasi dalam proses pembuatan anyaman bambu keben yang nantinya dapat menarik para konsumen untuk dapat memakai anyaman bambu daripada sarana yang lain, oleh karena itu anyaman keben sudah banyak peminatnya di kalangan masyarakat luas tersebut.
Kerajinan anyaman bambu keben, relatif tidak memerlukan proses produksi yang rumit dibandingkan dengan kerajinan lainnya, hanya membutuhkan keterampilan khusus sehingga setiap orang bisa menekuninya dan dengan modal kemauan dan sedikit kerja dapat dilakukan usaha ini. Kegiatan industri kerajinan anyaman bambu khususnya keben ini dilakukan oleh masyarakat Dusun Pucangan melalui proses yang panjang. Awalnya mereka meniru anyaman yang mereka beli di pasar, setelah itu kreativitas mereka berkembang terus menciptakan jenis dan motif dari anyaman khususnya keben. Kegiatan ini dilakukan secara turun temurun dan diwariskan pada anak cucu mereka.
Dalam proses pembuatannya diharapkan mampu menerapkan konsep terapan teknologi tepat guna. Teknologi tepat guna memiliki ciri utama yaitu berbahan lokal, bisa ditempatkan setempat dilakukan oleh tenaga terlatih dilokal tersebut, dan memiliki nilai tambah bagi usaha lainnya. Teknologi tepat guna dibidang ini sebagian sudah menyangkut ciri-ciri tersebut. Khususnya di Dusun Pucangan yakni bernilai teknik, ergonomis, berbudaya dan bernilai sosial, hemat energi, serta pelestarian lingkungan.
Dalam penilaian teknik ada pada pemanfaatan skill. Atau teknik-teknik pengerajin dalam pengolahan bambu menjadi anyaman. Itu merupakan tenaga terlatih yang disiapkan untuk melakukan inovasi-inovasi dan mengembangkan kemampuan sumber daya manusia untuk menjadi tenaga yang berkualitas penuh dengan disiplin dan penuh dengan upaya mensejajarkan kemampuan diri sehingga mampu bersaing guna menghadapi persaingan global. Dengan demikian tinjauan teknologi tepat guna memang tepat sebagai acuan di dalam memproses kerajinan anyaman bambu keben untuk menuntun pengerajin.
Dalam pengembangan hal ini nilai ekonomis juga tergantung di dalamnya dimana dalam penerapan teknologi dalam pembuatan anyaman bambu keben ini sangat sederhana dan sangat mudah untuk menggunakannya. Melalui penerapan inilah pengerajin lebih praktis dan lebih simple dalam mengerjakan pekerjaan tersebut, sangatlah mudah dalam memproses produk, karena didukung skill yang dimiliki oleh pengerajin untuk mengaplikasikannya ke sebuah karya kerajinan tangan yang tepat guna.
Keterampilan (skill) yang didukung dengan tenaga kerja dalam melakukan aktivitasnya, dimana dalam kerja yang dilakukan sudah teratur dalam kajian ilmu, yang didalamnya berisi kenyamanan dalam melakukan aktivitas kerja yang diterapkan dalam nilai ergonomis untuk pencapaian suatu kesehatan dan juga keselamatan dalam melakukan pekerjaan itu sendiri. Pengembangan teknologi tepat guna memang tepat dilakukan untuk masyarakat kecil menengah disamping penggunaannya yang simple juga memudahkan masyarakat dalam pemahamannya. Disamping itu juga teknologi tepat guna hendaknya juga berbasis kebudayaan sosial, oleh karena itu masyarakat dapat dengan mudah meningkatkan mutu yang terpendam dalam dirinya.
Penggunaan teknologi tepat guna bisa menghemat energi dari pada tenaga kerja tersebut. Karena itu masyarakat akan merasa nyaman dan enak dalam melakukan pekerjaan yang mereka kerjakan dan juga karena faktor-faktor lain yang mendukung atas kerja. Faktor tersebut adalah faktor kemauan kerja. Teknologi tepat guna dapat juga membantu dalam meningkatkan produktivitas, sehingga mampu memberikan semangat penganyam keben untuk dapat meningkatkan kualitas anyaman keben tersebut. Untuk itulah penerapan teknologi tepat guna diterapkan dalam hal pembuatan keben.
Untuk selanjutnya pengerajin mendapat kesempatan untuk mendapatkan kemajuan kondisi yang menyenangkan, rekan kerja yang baik konpensasi gaji atau imbalan. Didalam tinjauan teknologi tepat guna sangat memperhatikan lingkungan yang nantinya dapat melakukan tindakan-tindakan inovatif terhadap lingkungan, dengan cara mengolah limbah ataupun memperbaiki konsep yang dapat merusak lingkungan disekitar kerja. Seperti halnya di Dusun Pucangan di Desa Kayubihi, dimana lingkungan tersebut masih segar dan jauh dari pencemaran lingkungan ataupun polusi yang dapat merusak tatanan dari pada lingkungan desa tersebut.
Ditinjau dari segi atau aspek teknologi tepat guna yang mana dalam pengertiannya pemanfaatan teknologi sejak mula dalam perencanaan sistem dan proses produksi yang mempertimbangkan nilai dan aspek manusia, persaingan dan berkesinambungan produksi dan menerapkannya dalam desain peralatan dan perkakas, mesin, pekerjaan (jobs), tugas-tugas (tasks), lingkungan (kerja).
Kriteria-kriteria dimana kriteria tersebut menanamkan paham yang berorientasi kepada manusia yang terlatih dalam konsep pengembangan-pengembangan yang bisa melakukan inovasi-inovasi demi mensejajarkan diri dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Maka dari itulah teknologi tepat guna memang tepat diterapkan atau dijalankan dalam proses pembuatan anyaman bambu keben di Dusun Pucangan Desa Kayubihi itu sendiri.
Proses produksi anyaman bambu keben di Dusun Pucangan Desa Kayubihi ini dalam memproses anyaman sehingga menjadi anyaman yang siap dipasarkan masih banyak menggunakan peralatan yang manual, yang mana masih menggunakan peralatan yang sangat sederhana seperti : gergaji, kapak, pisau dan lain-lain. Karena dalam pembuatan anyaman tersebut tidaklah begitu pentingnya dalam mengunakan alat-alat (mesin) canggih , tetapi yang diperlukan adalah faktor tenaga kerja atau skill, keterampilan sangatlah penting dalam pembuatan anyaman tersebut. Alat-alat sederhana dan faktor tenaga terlatih yang dimaksudkan atau yang digolongkan Teknologi Tepat Guna. Karena sangat praktis, bernilai teknik, simple, ekonomis, dan ergonomis. Itulah peranan teknologi tepat guna didalam pembuatan anyaman bambu.
Untuk itu juga tersedianya bahan baku, modal, yang nantinya dapat menunjang aktivitas pekerja. Salah satu industri baik industri besar maupun industri rumah tangga adalah bagaimana mengoperasikan sistem produksi secara efisien agar diperoleh biaya produksi yang rendah dengan output produk yang dapat bersaing dipasaran, produk dapat memuaskan konsumen, untuk itu perlu adanya keserasian antara faktor-faktor produksi yang meliputi peralatan – metode – bahan baku – manusia.
Salah satu aspek yang perlu diperhatikan untuk keserasian hubungan tersebut adalah aspek ergonomis, sehingga semua faktor proses produksi dapat berjalan dengan baik, efisien dan produktif. Agar sistem dapat bekerja efektif dan harmonis maka tata letak peralatan perlu diatur sedemikian rupa, serta tata letak elemen pendukung berada dalam satu garis koordinasi yang seimbang. Aspek ergonomis dalam tata letak meliputi : tuntunan tugas, organisasi dan lingkungan.
Perencanaan tata letak peralatan produksi yang ergonomi akan dapat memudahkan operator melaksanakan tuntunan dari tugas-tugas yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dari perusahaan. Tata letak dari produksi dapat mempengaruhi dari layout dari proses produksi maupun alat kerja dan efisiensi dari pengerajin. Untuk itu tata letak perlu mendapat perhatian yang serius agar proses produksi lebih efesien dan waktu penyelesaian suatu produk menjadi lebih singkat.
Proses produksi anyaman bambu berupa keben, dimana tinjauan atau penerapan tersebut dapat memberi masukan di dalam pengerajin melakukan aktivitasnya, agar pekerjaan tersebut lebih efektif dan efisien, sehingga mampu meningkatkan skill daripada pengerajin tersebut, dan juga meningkatkan produk yang siap dipasarkan untuk menjamin kelangsungan hidup masyarakat Dusun Pucangan Desa Kayubihi Bangli. Untuk itulah penerapan proses produksi ini agar bisa menjadi acuan dalam pengerajin memproses anyaman, sehingga dalam pelaksanaannya lebih cepat dan dapat meningkatkan kualitas dari anyaman tersebut. Proses produksi merupakan konsep untuk memberikan masukan-masukan kepada pengerajin di dalam proses anyaman, sehingga anyaman tersebut dapat membantu pengerajin dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Banyak orang beranggapan bahwa teknologi harus bercirikan mesin-mesin industri yang besar, pesawat terbang atau komputer. Padahal pengertian teknologi adalah upaya manusia untuk membuat kehidupan lebih sejahtera, lebih baik, lebih enak dan lebih mudah. Bila seseorang mengupas sabut kelapa dengan gigi dan kemudian berusaha mengupas dengan kapak yang dibuat dari batu dari batu, kejadian seperti ini termasuk kedalam teknologi pula. Ada nilai pengembangan alat di sana.
Oleh karena itu, pendidikan teknologi adalah usaha mengenali keadaan lingkungan dan kemampuan masysrakat dalam mengantisipasi lingkungannya. Setelah mengenal keadaan lingkungan dan kemampuan (masyarakat), pendidikan teknologi harus berusaha mengembangkan kemampuan masyarakat dalam dalam mengantisipasi lingkungan, sehingga hidup masyarakat lebih mudah, lebih enak dan yang terpenting lebih sejahtera. harus bercirikan. Kalau begitu bila ingin menerapkan Teknologi Tepat Guna harus diikuti dengan pendidikan teknologi, memahami pengertian, kriteria dan persyaratan, ciri-ciri dan ketepatan suatu teknologi.
Didalam penerapan teknologi tepat guna di Dusun Pucangan Desa Kayubihi ini produktivitas dalam proses pembuatan anyaman bambu masih mengandalkan teknik sederhana akan tetapi hasil dari prosesnya sangatlah banyak peminatnya oleh karena itu pengerajin sampai kekurangan tenaga pengerajin didalam memproduksi anyaman tersebut, karena jumlah pesanan sangat tinggi. Peminat kerajinan anyaman bambu keben sangat banyak bahkan sampai tamu-tamu manca negara yang khusus datang ke Bali hanya untuk melihat atau membeli produk anyaman bambu dan pernak-pernik kerajinan dari Bali. Maka dari itulah proses produksi dari anyaman bambu merupakan hasil yang produktif dari pendapatan pengerajin itu sendiri.
Dalam pengerajin mengerjakan anyaman bambu keben proses produksi dalam kaitannya dengan pemasaran yang dapat menunjang kebutuhan hidup masyarakat Dusun Pucangan Desa Kayubihi, sehingga nantinya dapat meningkatkan produktivitas kerja untuk mengembangkan usaha yang berbasis kesederhananan. Proses produksi merupakan konsep- konsep yang nantinya dapat memberi masukan kepada pengerajin dalam upaya meningkatkan produktivitas kerja untuk membangun semangat sehingga dapat memacu diri dalam memacu kreatifitas dalam berkarya. Tentunya dalam implementasi teknologi tepat guna dalam produksi anyaman bambu keben.
Disamping itu juga karena persaingan ekonomi seperti sekarang ini, sumber daya manusia yang begitu padat, sehingga sangat tipis kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan hidup rutinitas rumah tangga. Maka dari itulah pembuatan kerajinan anyaman berupa keben sudah mulai berkembang dalam rumah tangga. Banyak rumah tangga yang sudah menggeluti pembuatan anyaman bambu keben tersebut, sehingga persaingan pun terjadi di dalamnya.
Sehingga dengan cara itu masyarakat dalam rumah tangga bisa mendapat pemasukan dan tidak terhimpit dalam kesulitan ekonomi guna memenuhi kebutuhan hidup. Dalam hidup seperti sekarang inilah kita harus bisa mengembangkan kemampuan diri untuk menghadapi kesulitan ekonomi, sehingga mampu melakukan inovasi-inovasi untuk mendorong daya kerja serta motivasi seseorang dalam upaya mensejajarkan diri untuk memenuhi kebutuhan hidup. Maka dari itu banyak kegiatan dilakukan dalam rumah tangga seperti kerajinan anyaman bambu keben.

About these ads
Kategori:Skripsi Industri
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 246 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: