Beranda > Skripsi Industri > USULAN PEMBAKUAN SECARA ADMINISTRATIF STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP) KEGIATAN PERAWATAN NON BEDAH INSTALASI GAWAT DARURAT RS

USULAN PEMBAKUAN SECARA ADMINISTRATIF STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP) KEGIATAN PERAWATAN NON BEDAH INSTALASI GAWAT DARURAT RS

Januari 10, 2010

Standard operating procedure (SOP) adalah tatacara atau tahapan yang harus dilalui dalam suatu proses kerja tertentu, yang dapat diterima oleh seorang yang berwenang atau yang bertanggung jawab untuk mempertahankan tingkat penampilan atau kondisi tertentu sehingga suatu kegiatan dapat diselesaikan secara efektif dan efisien. Bagian non bedah IGD RSUD. Dr. Moewardi Surakarta adalah salah satu unit layanan rumah sakit yang telah menerapkan SOP. Permasalahan yang terjadi pada SOP yang berlaku yakni bentuk SOP masih berupa pernyataan sehingga belum terlihat jelas alur kegiatan perawatan yang dilakukan. Selain itu, pada SOP yang berlaku juga belum terdapat waktu standar kerja akibatnya pihak rumah sakit kesulitan dalam mengalokasikan beban kerja. Oleh karena itu waktu kerja perlu distandarkan. Dengan adanya kebutuhan standarisasi waktu kerja, maka dibuat usulan pembakuan SOP dengan menyertakan waktu standar dari tiap elemen kegiatan perawatan. Pada penelitian ini digunakan metode completely randomized design (CRD) untuk mengolah data eksperimen. Sedangkan untuk melakukan pencatatan waktu kerja digunakan metode time study.
Prosedur pembakuan SOP dimulai dari tahap pengumpulan data. Pada tahap ini diperoleh data alur kegiatan perawatan. Dari data tersebut dilakukan elemental breakdown (penguraian kegiatan menjadi elemen kegiatan yang lebih detail). Langkah selanjutnya dilakukan pengukuran waktu kerja dari setiap elemen kegiatan pada seluruh perawat non bedah dengan stopwatch. Dari data rekapitulasi yang diperoleh dilakukan uji ANOVA dan uji keseragaman data. Setelah data seragam, tahap selanjutnya adalah menentukan penyesuaian dan kelonggaran untuk menentukan waktu standar. Tahap terakhir yakni membuat usulan pembakuan SOP dengan network diagram dan menyertakan waktu standar pada usulan tersebut.

Saat ini setiap rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pasien sesuai dengan penerapan sistem manajemen mutu menurut ISO 9001:2000. Perbaikan mutu layanan dan kinerja rumah sakit umumnya dimulai dari perawat melalui berbagai bentuk kegiatan seperti gugus kendali mutu dan penerapan standar keperawatan.
Standarisasi merupakan sarana penunjang yang sangat penting sebagai alat yang efektif dan efisien guna menggerakkan kegiatan organisasi dalam meningkatkan produktivitas dan menjamin mutu layanan. Standarisasi adalah proses merumuskan, merevisi, menetapkan, dan menerapkan standar dilaksanakan secara tertib dan kerjasama dengan semua pihak (PP Nomor 15 Tahun 1991).
Standar adalah spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsesus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengalaman, perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya (PP 102 tahun 2000). Salah satu bentuk standar adalah standard operating procedure (SOP). SOP atau prosedur penetapan (protap) merupakan tatacara atau tahapan yang harus dilalui dalam suatu proses kerja tertentu, yang dapat diterima oleh seorang yang berwenang atau yang bertanggung jawab untuk mempertahankan tingkat penampilan atau kondisi tertentu sehingga suatu kegiatan dapat diselesaikan secara efektif dan efisien (Depkes RI, 1995).
RSUD Dr. Moewardi merupakan rumah sakit negeri di Surakarta yang memiliki berbagai unit pelayanan. Salah satu unit pelayanan tersebut adalah unit Instalasi Gawat Darurat (IGD). IGD harus mampu memberikan pelayanan gawat darurat yang optimal, terarah, dan terpadu bagi setiap anggota masyarakat yang sedang dalam keadaan gawat darurat. Untuk mencapai kerja yang optimal, IGD RSUD Dr. Moewardi telah membuat protap kerja.
Kekurangan-kekurangan yang ada pada protap adalah protap yang dibuat masih dalam bentuk pernyataan sehingga belum terlihat jelas alur kegiatan perawatan yang dilakukan perawat. Selain itu, pada protap juga belum terdapat waktu standar untuk pelaksanaan tiap kegiatan perawatan yang dilakukan terhadap pasien akibatnya pihak rumah sakit kesulitan dalam mengalokasikan beban kerja dan perencanaan tenaga kerja. Oleh karena itu waktu kerja kegiatan perawatan perlu distandarkan.
Dengan adanya kebutuhan standarisasi waktu kerja, akan dirancang usulan pembakuan secara administratif terhadap SOP kegiatan perawatan dengan menentukan waktu standar dan membuat usulan SOP dalam bentuk diagram agar terlihat jelas alur kegiatan yang harus dilakukan perawat dalam melakukan kegiatannya menangani pasien.
Penelitian ini difokuskan pada bagian non bedah karena pada bagian non bedah menangani lebih banyak pasien daripada bagian lain. Hal ini terbukti pada laporan bulanan pasien masuk IGD, diperoleh data jumlah pasien masuk IGD bulan Agustus 2006 yaitu non bedah 707 orang, bedah 216 orang, obgin 362 orang. Bulan September 2006, pasien non bedah 986 orang, bedah 470 orang, dan obgin 357 orang. Bulan Oktober 2006 pasien non bedah 1017 orang, bedah 393 orang, dan obgin 374 orang. Bulan November 2006 pasien non bedah 1016 orang, bedah 339 orang, dan obgin 390 orang. Fakta ini menjadi perlu diperhatikan mengingat jumlah perawat non bedah yang ada tidak dapat melayani seluruh pasien yang masuk maka waktu standar harus dapat diterapkan sehingga pihak rumah sakit dapat menentukan berapa jumlah penambahan perawat yang diperlukan sehingga semua perawat yang ada dapat melayani seluruh pasien yang masuk di bagian non bedah IGD.
Dalam perancangan usulan pembakuan SOP digunakan network diagram untuk mempermudah mengetahui waktu penyelesaian pekerjaan. Metode untuk menentukan durasi waktu setiap kegiatan adalah metode time study. Time study dipilih karena pekerjaan perawat berlangsung cepat dan berulang-ulang (repetitive). Langkah pembuatannya diawali dengan penguraian kegiatan perawatan ke dalam elemen-elemen kegiatan yang lebih singkat. Waktu siklus diukur pada tiap elemen kegiatan. Pengukuran dilakukan selama pengamatan pada saat perawat melakukan seluruh kegiatan perawatannya.

About these ads
Kategori:Skripsi Industri
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 253 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: