Beranda > Skripsi Manajemen > PENGARUH ASYMMETRIC INFORMATION, INVESTMENT OPPORTUNITY, PROFITABILTY DAN DIVIDEND TERHADAP KEBIJAKAN LEVERAGE PERUSAHAAN MANUF

PENGARUH ASYMMETRIC INFORMATION, INVESTMENT OPPORTUNITY, PROFITABILTY DAN DIVIDEND TERHADAP KEBIJAKAN LEVERAGE PERUSAHAAN MANUF

Januari 3, 2010

Pecking Order Theory adalah sebuah teori yang menekankan manajer memilih untuk menggunakan laba ditahan untuk mendanai perusahaan daripada hutang dan alternatif terakhir adalah penerbitan saham baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh asymmetric information, investment opportunity, profitability dan dividend terhadap leverage perusahaan. Dari hasil pengujian analisis linear berganda diperoleh persamaan liniear berganda :
Y= -0,815 + 0,233 X1 + 1,008 X2 + -3,000X3 + 0,429 X4
X1 = asymmetric information, X2 = investment opportunity, X3 = profitabilty dan X4 = dividend.
Dari hasil uji F diperoleh nilai signifikansinya sebesar 0,000 yang berarti kurang dari 0,05. Hasil itu berarti menunjukkan bahwa variabel asymmetric information, investment opportunity, profitability dan dividend berpengaruh secara simultan atau bersama-sama terhadap leverage perusahaan. Sedangkan dari hasil uji t diperoleh nilai signifikansinya sebesar 0,070 untuk X1 (asymmetric information), untuk X2 (investment opportunity) nilai signifikansinya sebesar 0,111 sedangkan nilai siginifikansinya untuk X3 (profitability) dan X4 (dividend) sebesar 0,000 dan 0,771. Hasil itu berarti bahwa hanya asymmetric information dan profitability yang berpengaruh signifikan secara parsial terhadap leverage perusahaan.
Jenis data yang digunakan yaitu data sekunder menggunakan rasio-rasio keuangan perusahaan yang dilaporkan berturut-turut selama periode penelitian yaitu pada tahun 2001-2004. Uji asumsi klasik menggunakan uji multikolinearitas, uji autokorelasi dan uji heterokedasitisitas. Dari hasil uji asumsi klasik terbebas dari uji asumsi klasik multikolinearitas. Koefisien determinasi (R2) sebesar . Berarti dari hasil penelitian ini variable leverage dipengruhi oleh asymmetric information, investment opportunity, profitability, dan dividend sebesar sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya.

Tujuan utama perusahaan adalah untuk memaksimalkan nilai perusahaan dan meningkatkan kesejahteraan pemegang saham dimana terlihat dari harga saham dan dividend yang dibagikan. Hal itu bisa terjadi jika perusahaan menghasilkan profit tinggi yang berasal dari investment opportunity yang besar.
Pertumbuhan ekonomi tinggi yaitu diatas 7% pada tahun 1990 sampai pertengahan tahun 1997 telah mendorong dunia usaha Indonesia untuk mendanai kegiatan investasinya dengan pinjaman luar negeri (overseas borrowing) dalam jumlah besar yang disebabkan nilai tukar rupiah yang relatif stabil dan rendahnya suku bunga pinjaman dalam US Dollar. Akan tetapi, sebagian besar peminjam tidak melakukan antisipasi terhadap kemungkinan Rupiah terdepresiasi dimana mereka tidak melakukan Hedging atas pinjamannya, akibatnya ketika terjadi krisis moneter pada pertengahan tahun 1997 yang ditandai dengan terdepresiasinya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar mendekati 90%. membuat leverage perusahaan membengkak yang menyebabkan meningkatnya beban bunga sehingga mengurangi laba yang merupakan komponen dari modal sendiri.
Fenomena diatas membuat batasan mengenai keberadaan penggunaan hutang menjadi sedemikian menarik. Pencarian batas hutang optimal merupakan perwujudan dari usaha penetapan struktur modal yang tepat dalam mendanai kegiatan investasinya. Penetapan struktur modal yang tepat sudah menjadi bahan pemikiran para praktisi maupun akademisi karena hutang menjadi bagian dari bisnis.
Berbagai faktor menjadi bahan pertimbangan bagi suatu perusahaan untuk memilih struktur modal tertentu misalnya agency cost, bancrupty cost, asymmetric information, investment opportunity, profitability dan corporate tax yang akan mempengaruhi nilai perusahaan. Pada tulisan ini pembahasan hanya mengenai salah satu teori struktur modal yaitu Pecking order theory.
Pecking order theory adalah salah satu teori struktur modal yang merupakan konsep pendanaan berdasarkan sebuah “hierarki” pendanaan yaitu perusahaan disarankan untuk mendanai kegiatan investasinya dengan sumber pendanaan yang berasal dari internal perusahaan yaitu laba ditahan dan arus kas yang berasal dari depresiasi, hutang dengan paling rendah resikonya, hutang yang lebih beresiko, sekuritas hybrid seperti obligasi konversi, saham preferen dan penerbitan saham biasa sebagai alternatif terakhir sumber pendanaan.
Penerbitan saham biasa menjadi jalan terakhir sumber pendanaan karena perusahaan akan menghadapai masalah asymmetric information ketika menerbitkan sahamnya dimana manajer perusahaan biasanya akan memperoleh informasi yang lebih mengenai keadaan perusahaan daripada investor, sehingga penerbitan saham dianggap kurang baik bagi investor karena manajemen akan menggunakan private information ketika right issue pada saat harga sahamnya overpriced, sehingga akan mengakibatkan harga saham lama turun. Implikasi dari asymmetric information ini adalah bahwa dalam keadaan “normal” perusahaan menggunakan sedikit hutang dan perusahaan harus menjaga borrowing capacity reserve (cadangan kapasitas meminjam) yang dapat dipergunakan jika terdapat investment opportunity yang menjanjikan. Selain itu biaya penerbitan (floatation cost) tinggi menjadi pertimbangan tersendiri bagi perusahaan dalam memilih sumber pendanaan saham.
Investment opportunity besar yang dimiliki oleh perusahaan tentu akan membutuhkan sumber dana yang besar pula. Sementara apabila sumber dana internal (laba di tahan) perusahaan sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan dana tersebut sehingga membuat kebutuhan terhadap sumber dana eksternal tidak terhindarkan. Dan ketika memutuskan bahwa kebutuhan tambahan dana diambil eksternal maka sesuai dengan konsep pecking order theory hutanglah yang akan menjadi pilihan pertama dibandingkan dengan penerbitan saham (dengan adanya asymmetric information dan biaya penerbitan (floatation cost) tinggi). Sehingga dengan adanya investment opportunity besar yang dimiliki oleh perusahaan akan meningkatkan leverage perusahaan, tapi harus juga dipertimbangkan bahwa untuk mendapatkan sumber dana dari luar seperti hutang dan saham diperlukan biaya yang besar, prosedur yang rumit dan diperlukan waktu yang relatif lama untuk mendapatkannya. Belum lagi konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan dari penerbitan hutang dan saham tersebut.
Perusahaan yang memiliki kemampuan tinggi dalam mengelola asetnya dalam menghasilkan profit yang berasal dari investment opportunity besar dapat memperbesar jumlah sumber dana internal yang tersedia untuk reinvestment dan pembagian dividend bagi pemegang saham sehingga akan cenderung menurunkan ketergantungan perusahaan terhadap kebutuhan dana eksternal dalam hal ini hutang. Sebaliknya, bagi perusahaan dengan Profitability rendah akan cenderung besar ketergantungannya terhadap sumber dana eksternal. Jadi apabila perusahaan memiliki net cash flow (cash earning dikurangi pengeluaran investasi) perusahaan positif maka perusahaan memiliki sumber dana internal yang cukup untuk mendanai kegiatan investasinya.
Laba bersih yang dihasilkan oleh perusahaan akan digunakan untuk dua hal, yaitu dibagikan bagi para pemegang saham dalam bentuk dividend dan laba ditahan yang digunakan untuk reinvestment. Dalam Pecking order theory, dividend bersifat sticky dimana perusahaan tidak berniat menaikkan dividend kecuali perusahaan percaya bahwa pembayaran dividend yang lebih tinggi tersebut mampu dijaga, sehingga porsi laba bersih yang dibagikan untuk dividend cenderung rendah dan porsi laba bersih untuk laba ditahan yang digunakan untuk reinvestment akan tinggi dan tentu saja hal ini akan memperkecil ketergantungan terhadap dana eksternal yang dibutuhkan dalam hal ini hutang. Dengan kata lain kebijakan dividend yang rendah akan menurunkan leverage perusahaan.

%d blogger menyukai ini: