Beranda > Skripsi Manajemen > PERBANDINGAN MARKET PERFORMANCE DAN KARAKTERISTIK KEUANGAN PERUSAHAAN SEKTOR ANEKA INDUSTRI DENGAN SEKTOR PROPERTI – REAL ESTAT

PERBANDINGAN MARKET PERFORMANCE DAN KARAKTERISTIK KEUANGAN PERUSAHAAN SEKTOR ANEKA INDUSTRI DENGAN SEKTOR PROPERTI – REAL ESTAT

Januari 3, 2010

enelitian ini menganalisis market performance pada dua kelompok sektor saham di bursa efek Jakarta (BEJ), yaitu sektor aneka industri dan sektor properti – real estat. Antara kedua sektor tersebut, juga dilakukan analisis perbedaan karakteristik keuangan berdasarkan pada beberapa rasio yang terdapat pada laporan keuangan. Ukuran market performance yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sharpe’s measure, sedangkan karakteristik keuangan yang digunakan adalah PER, PBV dan DER.
Sampel yang digunakan adalah saham-saham yang termasuk ke dalam sektor aneka industri dan properti-real estat yang dipilih dengan menggunakan metode judgement sampling. Data karakteristik keuangan diambil dari laporan keuangan perusahaan periode Desember 2004, sedangkan data yang digunakan untuk menghitung market performance, yaitu harga saham, IHSG, dan suku bunga SBI, diambil secara bulanan pada periode Maret 2005-Maret 2006.
Penelitian ini terdiri dari dua tahap yaitu penelitian tahap pertama membandingkan market performance dan karakteristik keuangan antara sektor aneka industri dengan sektor properti. Penelitian tahap kedua adalah pengujian pengaruh karakteristik keuangan terhadap market performance. Pada penelitian tahap pertama didapatkan hasil bahwa market performance sektor aneka industri memiliki rata-rata yang tidak berbeda dengan market performance properti – real estat. Demikian pula untuk variabel-variabel yang lain, yakni excess return, PER, PBV dan DER untuk kedua sektor tersebut tidak memiliki rata-rata yang berbeda.
Dari hasil pengujian-pengujian statistik yang dilakukan pada penelitian tahap kedua, diperoleh kesimpulan bahwa variabel PER, PBV dan DER, baik secara bersama-sama atau parsial tidak mampu menjelaskan market performance pada kedua sektor tersebut.
Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa dalam sektor aneka industri, saham BRAM memiliki Sharpe’s measure tertinggi, sedangkan BIMA yang terendah. Untuk sektor properti, saham LPKR memiliki Sharpe’s measure tertinggi, sedangkan BKSL memiliki Sharpe’s measure yang terendah.

Banyak cara yang dapat dilakukan investor dalam melakukan investasi. Salah satunya adalah dengan melakukan investasi di pasar modal. Dalam hal ini pasar modal didefinisikan sebagai suatu tempat berlangsungnya kegiatan yang berkaitan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek (UU No. 8/1995 Tentang Pasar Modal). Dengan pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa pasar modal mempunyai peran yang strategis sebagai salah satu sumber pembiayaan bagi dunia usaha dan wahana investasi bagi masyarakat.

Pasar modal menjadi alternatif pendanaan dalam mengembangkan perusahaan di Indonesia, karena melalui pasar modal, dana dapat diperoleh dalam jumlah besar dibanding dana dari perbankan. Perusahaan yang membutuhkan dana, menjual surat berharganya dalam bentuk saham di pasar modal, melalui penawaran perdana kepada publik atau initial public offering (IPO) di pasar primer yang selanjutnya diperdagangkan di pasar sekunder. Bagi investor sendiri, pasar modal selain sebagai wahana investasi juga merupakan upaya diversifikasi. Setiap investor dapat memilih berbagai investasi yang ada, di mana setiap jenis investasi memiliki karakteristik sendiri-sendiri dalam hal tingkat pengembalian (return) dan risiko.
Sejak dibukanya pada tahun 1912, pasar modal di Indonesia mengalami pasang surut dalam perkembangannya. Pemerintah membentuk BAPEPAM (Badan Pengawas Pasar Modal) dan dalam Keputusan Menteri Keuangan RI nomor 503/KMK.01/1997, BAPEPAM berfungsi sebagai pembina, pengatur, dan pengawas kegiatan pasar modal. Dengan dibentuknya BAPEPAM dan dikeluarkannya beberapa deregulasi pemerintah pada tahun 1987-1988 yang berkaitan dengan pasar modal, aktivitas pasar modal menjadi meningkat. Hal tersebut disebabkan oleh
peningkatan jumlah perusahaan yang bergabung ke dalam pasar modal, dan juga meningkatnya besar dana yang dihimpun. Sejak Januari 1996, dalam rangka memberikan informasi yang lebih lengkap kepada publik, bursa efek Jakarta (BEJ) mengelompokkan semua saham yang tercatat di BEJ ke dalam sembilan sektor yang didasarkan pada klasifikasi industri, yaitu sektor (1) pertanian, (2) pertambangan, (3) industri dasar dan kimia, (4) aneka industri, (5) industri barang konsumsi, (6) properti dan real estat, (7) transportasi dan infrastruktur, (8) keuangan, dan (9) perdagangan, jasa, dan investasi.
Bagi investor, terdapat dua hal yang sering menjadi perhatian dalam memutuskan investasinya, yaitu return dan juga risiko dari investasi tersebut. Untuk sekuritas-sekuritas yang memiliki return yang sama, mereka mencari risiko yang terendah. Sedangkan untuk sekuritas-sekuritas yang memiliki risiko yang sama, mereka memilih return yang tinggi. Dengan melakukan investasi saham di pasar modal, investor berharap dapat melipatgandakan modalnya lebih besar dibanding dengan return pada investasi lain. Besarnya return tergantung dari kesediaan investor untuk menanggung risiko. Semakin besar risiko yang diambil maka semakin besar harapan return yang akan diterima, sesuai dengan karakteristik saham yakni high risk-high return. Saham memberi kemungkinan untuk mendapatkan return yang tinggi, tetapi juga bisa membuat investor mengalami kerugian besar.

Berkaitan dengan klasifikasi sembilan sektor di BEJ, setiap sektor tentu memiliki karakteristik tersendiri, termasuk di dalamnya return dan juga risikonya. Pakpahan (2002) mengamati profil-profil risiko yang terjadi di masing-masing industri dengan menggunakan indeks harga saham sektoral (IHSS) yang dikeluarkan oleh BEJ, dan disimpulkan bahwa volatilitas return memiliki kesamaan pola di mana pada awal terjadinya krisis ekonomi mempunyai volatilitas yang tinggi dan kemudian diikuti dengan volatilitas yang makin rendah pada tahun 1999 sampai dengan 2001. Penelitian Pakpahan (2002) juga menunjukkan bahwa sektor aneka industri memiliki volatilitas return yang paling rendah, kemudian diikuti oleh sektor perdagangan. Sedangkan sektor properti dan pertanian merupakan dua sektor yang paling tinggi volatilitasnya. Dengan memperhatikan hasil penelitian tersebut, sektor aneka industri dan sektor properti – real estat merupakan dua sektor yang berbeda volatilitas returnnya sehingga menarik untuk diamati. Volatilitas return diukur menggunakan deviasi standar dari return saham atau menggunakan beta saham. Semakin tinggi volatilitas return, maka saham semakin berisiko.

Dengan mengetahui return dan risiko suatu saham, investor dapat mengetahui tingkat market performance saham tersebut. Market performance saham adalah riskadjusted return. Market performance yang menggabungkan return dan risiko dapat dijadikan acuan dalam menentukan saham mana yang mempunyai kinerja yang baik. Selain menggunakan ukuran market performance, karakteristik keuangan suatu perusahaan yang berdasarkan pada rasio-rasio dari laporan keuangan, dapat pula dijadikan acuan untuk menilai perusahaan. Rasio-rasio yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan di antaranya adalah leverage, PER dan PBV.

Penelitian yang berkaitan dengan pengukuran market performance dan karakteristik keuangan beberapa perusahaan telah banyak dilakukan. Michel dan Shaked (1986) telah membandingkan market performance dan karakteristik keuangan dari 43 perusahaan domestik di Amerika Serikat dengan 58 perusahaan multinasional di Amerika Serikat selama periode tahun 1973-1982. Penelitian mereka menunjukkan bahwa perusahaan domestik mempunyai market performance yang lebih bagus dibandingkan dengan market performance perusahaan multinasional. Sedangkan Indra Wijaya Kusuma (1999) dalam penelitiannya, dengan menggunakan unit observasi penelitian yang sama, namun periode penelitian yang berbeda, mendapatkan hasil yang berbeda, yaitu bahwa market performance perusahaan multinasional lebih bagus dibandingkan market performance perusahaan domestik.

Dalam mengambil keputusannya, investor kerap kali juga dapat menggunakan dan menganalisis laporan keuangan (financial statement) yang telah dikeluarkan oleh perusahaan. Tujuan mengalisisnya adalah untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan perusahaan tersebut berdasarkan laporan-laporan keuangannya. Kebanyakan penelitian yang berhubungan dengan kinerja perusahaan, selalu menghubungkan kinerja tersebut terhadap risiko (Collins, 1990; DeFusco, 1990), dan sedikit sekali yang menghubungkannya dengan rasio-rasio keuangan, dikarenakan rasio-rasio keuangan merupakan produk-produk akuntansi. Namun Ou dan Penman (1989) juga Lev dan Thiagarajan (1993) melakukan penelitian dengan menggunakan analisis dari laporan keuangan perusahaan, menyimpulkan bahwa beberapa informasi dari laporan keuangan mampu menjelaskan kinerja suatu saham.

Dari uraian-uraian di atas, jelaslah bahwa penelitian ini bermaksud membandingkan market performance dan karakteristik keuangan perusahaan sektor aneka industri dengan sektor properti – real estat. Selanjutnya sektor properti – real estat disingkat penulisannya menjadi sektor properti. Market performance yang digunakan adalah ukuran Sharpe (Sharpe’s measure). Karakteristik keuangan yang digunakan adalah leverage, PER dan PBV. Mengacu pada penelitian Ou dan Penman (1989) juga Lev dan Thiagarajan (1993), penelitian ini juga bertujuan untuk menjelaskan pengaruh beberapa karakteristik keuangan terhadap kinerja suatu saham. Data cross-sectional berupa leverage, PER dan PBV per 31 Desember 2004 diperoleh dari Fact Book 2005, sedangkan harga penutupan saham bulanan, IHSG bulanan, dan dividen selama tahun 2005 diperoleh dari situs internet BEJ (www.jsx.co.id). Data SBI yang digunakan dalam menghitung market performance diperoleh dari situs internet Bank Indonesia (www.bi.go.id).

%d blogger menyukai ini: