Beranda > Tak Berkategori > OPTIMASI ROUTING DINAMIS MENGGUNAKAN ALGORITMA SEMUT

OPTIMASI ROUTING DINAMIS MENGGUNAKAN ALGORITMA SEMUT

Januari 8, 2010

Routing merupakan hal yang sangat penting dalam kontrol jaringan komunikasi. Routing sendiri merupakan pelaksanaan dari penyampaian datagram berdasarkan informasi yang terkandung dalam routing table. Protokol routing mengatasi situasi routing yang kompoleks secara cepat dan akurat. Algoritma routing didesain tidak hanya untuk mengubah ke rute backup bila rute utama tidak berhasil, namun juga didesain untuk menentukan rute mana yang terbaik untuk mencapai tujuan tersebut. Algoritma routing yang ada saat ini banyak yang masih lamban terhadap perubahan yang terdapat pada jaringan serta membutuhkan resource (perangkat keras) dengan spesifikasi yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini yaitu merancang dan mengimplementasikan Algoritma Semut untuk optimasi system routing sehingga mampu meningkatkan performa jaringan yang ada.
Subjek penelitian ini adalah Simulasi Implementasi Algoritma Semut (AntNet) untuk pengoptimasian sistem routing dalam meningkatkan performasi jaringan. Metode yang penelitian yang dilakukan adalah metode studi pustaka dengan menggunakan data-data dari buku-buku, serta artikel dari internet, metode browsing dengan menggunakan search engine google dengan kata kunci “AntNet” “VMware” “Socket”. Rancangan simulasi memiiki 3 tahap pengembangan yaitu analisis, desain, dan coding. Simulasi diuji dengan metode blackbox test dan alpha test.
Hasil pengujian yang dilakukan terhadap simulasi yang dibuat kepada beberapa responden menunjukan bahwa implementasi algoritma semut dapat menghasilkan routing tercepat dalam meningkatkan performasi jaringan.

Routing merupakan hal yang sangat penting dalam kontrol jaringan komunikasi. Routing sendiri merupakan pelaksanaan dari penyampaian datagram berdasarkan informasi yang terkandung dalam routing table. Dalam jaringan, routing berarti kegiatan pemilihan salah satu jalur yang ada dari kemungkinan jalur yang tersedia untuk pengiriman data traffik dari node sumber ke node tujuan, secara keseluruhan routing sangat menentukan dalam performansi jaringan yang berhubungan dengan kualitas dan jumlah layanan jaringan yang ditawarkan.
Secara umum mekanisme routing dapat dibedakan atas dua yaitu routing statik (static routing) dan routing dinamik (dynamic routing). Jaringan dengan jumlah gateway terbatas dapat dikonfigurasi dengan menggunakan statik routing, sebuah statik routing table dibangun secara manual oleh administrator. Karena bersifat statik maka perubahan yang terjadi pada jaringan harus diupdate secara maual kedalam tabel routing yang ada.
Apabila jaringan memiliki lebih dari satu kemungkinan rute untuk tujuan yang sama maka perlu menggunakan dinamik routing. Sebuah dinamik routing dibangun berdasarkan informasi yang dikumpulkan oleh protokol routing. Protokol ini didesain untuk menyampaikan informasi yang dikumpulkan oleh protokol routing. Protokol ini didesain untuk mendistribusikan informasi yang secara dinamis mengikuti perubahan kondisi jaringan. Protokol routing mengatasi situasi routing yang kompoleks secara cepat dan akurat. Protokol routing didesain tidak hanya untuk mengubah ke rute backup bila rute utama tidak berhasil, namun juga didesain untuk menentukan rute mana yang terbaik untuk mencapai tujuan tersebut.
Rancangan jaringan dengan biaya rendah sering menggunakan tekhnik perancangan menggunakan tekhnik heuristik, tekhnik heuristik ini sendiri merupakan teknik penyelesaian masalah optimasi, dalam tekhnik ini algoritma yang biasa digunakan antara lain adalah Algoritma Greedy, Algoritma Star Optimal, Algoritma Dekomposisi dan Interkoneksi Optimal oleh Sugiharto (2003) [3], sedangkan metode evolusioner yang dipakai untuk tujuan optimasi routing adalah menggunakan Algoritma Genetik dan Algoritma Semut Dorigo dkk (1996)[1].
Pada awalnya, algoritma routing untuk pengiriman traffik data dalam jaringan dilakukan dengan meminimalkan beberapa fungsi biaya, seperti jarak link phisik, delay link, dan lainnya.
Metode-metode optimasi dengan menggunakan algoritma-algoritma yang ada telah dilakukan untuk meningkatkan kinerja jaringan. Metode yang umumnya dipakai saat ini yaitu Routing Information Protocol (RIP) dan Open Shortest Path First (OSPF).
Kedua contoh algoritma dasar yang digunakan oleh RIP maupun OSPF kinerjanya memang cukup baik, tetapi dalam penerapan masing-masing algoritma tersebut masih terdapat beberapa kelemahan. Sebagai contoh RIP(Routing Information Protokol) misalnya, algoritma dasarnya menggunakan metode distance-vektor, kekurangan utama pada algoritma routing ini yaitu kinerjanya yang sangat sederhana dan lambat dalam mengetahui perubahan kondisi jaringan [2]
OSPF(Open Shortest Path First) algoritma yang sepenuhnya digunakan di internet, menggunakan metode link state. Algoritma ini sangatlah kompleks, setiap router yang menjalankan OSPF menyimpan peta jaringan dan menghitung jarak terpendek ke semua tujuan di jaringan berdasarkan peta tersebut, walaupun kinerja algoritma ini agak lebih baik dari RIP namun kelemahan algoritma ini terletak pada resource(perangkat keras) yang dibutuhkan. Penggunaan algoritma ini membutuhkan kemampuan CPU yang tinggi dan memori yang besar [2].
Routing dengan metode RIP kurang memiliki fleksibilitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan routing yang baru. Kebutuhan layanan komunikasi jaringan dan peningkatan jumlah user yang mengesankan memaksa administrator jaringan untuk memperbaiki troughput dalam memenuhi layanan secara serentak dan dalam jumlah yang sangat besar. [2]
Penelitian penggunaan serta optimasi yang dapat diahasilkan oleh algoritma semut secara matematis telah dilakukan. RG (2002) dalam penelitiannya tentang dynamic routing untuk jaringan telekomunikasi menyatakan bahwa Algoritma Semut tepat untuk routing pada jaringan dengan kondisi throughput tinggi dan delay rendah. Dengan syarat tabel routing yang didapatkan adalah lengkap dan konsisten[7].
Pada permasalahan dengan evolusi yang darurat pada kasus dynamic problem, penyelesaian dengan Algoritma Semut yang merupakan algoritma multi agent baik untuk diterapkan. Penelitian ini disampaikan oleh Bertelle dkk (2002)[7].
Penelitian ini menganalisa dan mengimplementasikan salah satu alternatif routing yang lain, yaitu Algoritma Semut, algoritma ini terinspirasi dari perilaku semut dalam mencari makan. Dalam Algoritma Semut, semut buatan membangun sebuah path dari node sumber ke node tujuan, pada saat semut membangun path, semut menyimpan sejumlah informasi biaya path dan informasi kualitas jumlah traffic dalam jaringan, kemudian semut lain berjalan melaui path yang sama akan membawa informasi ini, tetapi dengan arah yang berlawanan memodifikasi table routing node yang dikunjungi.

Kategori:Tak Berkategori
%d blogger menyukai ini: