Beranda > Skripsi Industri > APLIKASI METODE TAGUCHI UNTUK MEMINIMASI CACAT PRODUKSI PADA PRODUK KACANG ATOM GAJAH BIRU (STUDI KASUS PABRIK KACANG GAJAH)

APLIKASI METODE TAGUCHI UNTUK MEMINIMASI CACAT PRODUKSI PADA PRODUK KACANG ATOM GAJAH BIRU (STUDI KASUS PABRIK KACANG GAJAH)

Januari 10, 2010

Penelitian ini lebih difokuskan pada penerapan Metode Taguchi untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh selama proses produksi pembuatan kacang atom jenis Gajah Biru khususnya pada stasiun kerja atau operasi penggorengan dengan menggunakan mesin penggorengan jenis LPG dan selanjutnya menentukan setting permesinan optimum untuk mengurangi variabilitas yang terjadi selama operasi penggorengan berlangsung. Tools yang digunakan untuk mengidentfikasi faktor-faktor yang berpengaruh adalah dengan bantuan Analisis Sembilan Operasi Primer.

Dari hasil analisis, diketahui bahwa persentase kontribusi terbesar pada pencapaian rata-rata karakteristik kualitas adalah faktor kecepatan pengaduk (faktor C) sebesar 17,4743% yang berarti faktor kecepatan pengaduk amat berpengaruh terhadap hasil pencapaian rata-rata karakteristik kualitas. Sama halnya pada pencapaian variasi karakteristik kualitas persentase kontribusi terbesar adalah faktor kecepatan pengaduk (faktor C) sebesar 37,6244% yang berarti faktor kecepatan pengaduk amat berpengaruh terhadap hasil pencapaian variasi karakteristik kualitas.
Dan dapat disimpulkan bahwa pemilihan level faktor kontrol optimum untuk memperoleh karakteristik kualitas yang tepat mendekati target dan variasi yang minimum adalah Faktor waktu operasi (Faktor A2) : 20 menit, Faktor selang waktu pengadukan (Faktor B1) : 3 menit sekali, Faktor kecepatan pengaduk (Faktor C1) : 50 rpm, Faktor kedalaman saringan (Faktor D1) : 10 cm dari bagian bawah wadah penggorengan, Faktor penggunaan tepung tapioka (Faktor E2) : Tipe Royal. Setelah pemilihan tersebut, dilakukan percobaan konfirmasi untuk mengetahui pengaruh dari level faktor tersebut terhadap respon yang dihasilkan. Hasil yang didapatkan dari percobaan konfirmasi ini adalah perolehan rataan sebesar 10,100 dengan variansi sebesar 2,9989. Sehingga terlihat adanya suatu perbaikan dari rataan dan variansi dari hasil studi pendahuluan yaitu, berturut-turut, 16,500 dan 30,722.

Kualitas merupakan prioritas utama untuk menampakkan keunggulan industri. Bagi pelanggan kualitas artinya desain yang bagus, kinerja yang bisa diandalkan, kiriman yang cepat, dan menyediakan barang dan atau jasa sesuai dengan harapan konsumen dan tentunya dengan harga yang kompetitif. Bagi suatu perusahaan, kualitas artinya menjaga inefsiensi dan proses (usaha) yang sia-sia tetap dalam keadaaan minimum. Berdasarkan meminimalisasi ketidakefsienan ini, kita bisa mengaplikasikan analisis operasi ke dalam proses produksinya.
Analisis operasi digunakan untuk mempelajari atau mengetahui elemen-elemen atau proses-proses yang produktif dan non produktif dalam suatu operasi, untuk meningkatkan produktivitas per satuan waktu, dan untuk mengurangi biaya per unit, sekaligus menjaga atau bahkan meningkatkan kualitas. Analisis operasi sama efektifnya baik dilakukan untuk merencanakan pekerjaan baru atau memperbaiki operasi yang sudah ada. Dengan menggunakan pendekatan pertanyaan untuk semua aspek stasiun kerja, tooling yang terlibat, desain produk, analis dapat mengembangkan stasiun kerja yang efisien. (Niebel, Freivalds, 2003, h. 71).
Perusahaan Kacang Gajah adalah perusahaan yang bergerak dibidang industri makanan kecil di kategori produk kacang yang meramaikan persaingan ketat dengan merk nasional dan multinasional. Jika berbagai elemen lini manufakturing (selain pemasarannya) terus dikembangkan, bukan tak mungkin kacang Gajah atau bahkan produk lokal lain (contohnya: Ayam dari Makasar, Bintang dari Jogja, dan B3 dari Pati) akan menjadi ancaman serius buat Garuda dan Dua Kelinci. Dan dengan munculnya produk-produk lokal seperti yang tadi disebutkan, hal ini tentu saja mengakibatkan meningkatnya persaingan. Agar dapat mempertahankan atau bahkan bisa meningkatkan posisinya dalam persaingan tersebut, Pabrik Kacang Atom Gajah dapat menerapkan metode Taguchi dengan menggunakan pendekatan analisa sembilan operasi primer dalam lini manufakturingnya secara menyeluruh untuk semua jenis produknya termasuk salah satunya pada produk kacang atom jenis Gajah Biru untuk meningkatkan kualitas produknya dan mengurangi jumlah cacat yang bisa merugikan perusahaan baik langsung maupun akumulasi.
Pada salah satu hasil produknya yaitu Kacang Atom Gajah Biru terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan kualitas produk dalam hal ini adalah kualitas hasil produksinya. Dari studi pendahuluan pada kacang atom jenis Gajah Biru ini ditemukan jenis cacat pada bagian proses pembuatannya dan pada bagian proses inspeksi akhirnya. Untuk bagian proses pembuatannya atau bagian operasi penggorengan, cacat diklasifikasikan berdasarkan bentuk fisik kacang atom dan ukuran fisik dari kacang atom tersebut. Dengan sampling acak tanpa pengembalian, pada operasi penggorengan ditemukan jenis cacat berupa kacang non tepung atau kacang yang tidak dilapisi bahan tepungnya dengan sempurna; dan kacang boom yaitu kacang yang bahan tepung bumbunya mengembang setelah mengalami operasi penggorengan, jadi kacang bentuknya lebih besar daripada standar ukuran kacang atom yang ingin dicapai pihak produsen. Dari jumlah kacang yang diambil sebagai sampling tersebut yaitu sebesar 1413 kacang atom, 305 diantaranya mengalami cacat, yaitu 140 kacang atom mengalami jenis cacat berupa kacang nontepung (sebesar 45,91%) dan sisanya yaitu 165 kacang atom mengalami jenis cacat berupa kacang boom (sebesar 54,09%). Sedangkan bagian proses inspeksi akhir yaitu setelah dari mesin packaging ditemukan cacat lagi yaitu berupa cacat tinta yang biasanya mencantumkan expired date atau tanggal kadaluwarsa (walaupun setiap bulan ke-4 dari 1 tahun masa berlakunya, kacang ditarik dari peredaran) tidak jelas atau bahkan tidak tercetak sama sekali; selain itu kacang alot atau ”melempem” yang disebabkan karena tekanan udara yang masuk ke dalam kemasan kurang jumlahnya. Dari jumlah kemasan yang diambil sebagai sampling yaitu sebesar 100 kemasan, 57 diantaranya mengalami cacat, yaitu 21 plastik mengalami jenis cacat berupa kurang udara (sebesar 36,84%) dan sisanya yaitu 36 plastik mengalami jenis cacat berupa cacat tinta (sebesar 63,16%).

Gambar 1.1 Kacang non tepung Gambar 1.2 Kacang boom

Hasil dari wawancara dengan Pak Bronto, yang merupakan supervisor atau pengawas yang merangkap sebagai manager produksi di bagian mesin penggorengan dan pengayakan, menjelaskan kacang atom mentah digoreng sampai matang dan ukuran akhir dari kacang atom seragam, dan jenis cacat yang dihasilkan ini disebabkan karena material yang dipakai (seperti kacang tanah dan tepung tapioka) tidak sesuai (walaupun ada beberapa alternatif material yang bisa dipakai); proses penggorengan yang tidak sempurna yang disebabkan karena tools dan lama penggorengannya yang belum standar (walaupun di mesinnya ada timernya tetapi tidak standar berdasarkan pengalaman sebelumnya dan kebiasaannya saja apakah kacang atomnya sudah matang apa belum). Untuk jenis cacat berupa cacat tinta dan kacang alot dihasilkan pada proses packaging, Pak Sofyan yang merupakan pengawas pada bagian mesin packaging dan inspeksi, menjelaskan kacang atom yang sudah matang dan suhunya sudah sesuai standar ini dikemas dalam kantong plastik yang tertutup rapat sehingga tidak dapat dimasuki oleh uap air dan tidak melempem. Cacat tinta merupakan kesalahan dari luar karena kemasan atau plastik yang digunakan untuk membungkus kacang atom merupakan subkontrak dari perusahaan di luar pabrik kacang atom Gajah. Untuk jenis cacat kacang alot disebabkan mesin packaging, yaitu akibat dari pengeluaran kacang atom sesuai berat bersih kacang per kemasan (yaitu 200gr), roller plastik kemasannya, dan setting tekanan udaranya.

Iklan
Kategori:Skripsi Industri
%d blogger menyukai ini: