Beranda > Skripsi Industri > PENGUKURAN KINERJA PERUSAHAAN DENGAN METODE INTEGRATED PERFORMANCE MEASUREMENT SYSTEMS

PENGUKURAN KINERJA PERUSAHAAN DENGAN METODE INTEGRATED PERFORMANCE MEASUREMENT SYSTEMS

Januari 10, 2010

Kesuksesan dan perkembangan pada setiap aktivitas bisnis dari manukfaktur hingga jasa pelayanan ialah bergantung pada bagaimana sebuah organisasi memanfaatkan data penting yang dipunyai. Metode pengelolaan data inilah yang sedang dipelajari dan dipelajari kembali oleh perusahaan kecil maupun besar dimanapun untuk dapat mengukur kinerja dirinya masing-masing.
Begitu pula kondisi yang sedang dihadapi oleh departement PE PT. SAMI sekarang, yaitu perusahaan semakin meningkatkan kapasitas produksi seiring dengan meningkatnya kapasitas yang ada sekarang untuk memenuhi strategi perusahaan dalam penambahan kapisitas produksi dan penambahan order dari para pelanggan yang tetap menjaga kualitas, biaya, dan pengiriman produk yang baik. Oleh karena itu departemen PE berusaha untuk memenuhi keinginan dari manajemen PT. SAMI dengan berusaha meningkatkan kinerjanya sehingga bisa mengikuti peningkatan kapasitas produksi. Dalam hal tersebut dibutuhkan alat yang dapat mengukur kemampuan kinerja departemen PE, dan dalam kasus ini dipilih pendekatan dalam pengukuran kinerja menggunakan Integrated Performance Measurement System (IPMS) dimana terdapat empat elemen pengukuran yaitu, Stakeholder Requirements, External Monitor, Objective, dan Measure. Tujuan dari penggunaan metode IPMS ini ialah untuk dapat mengetahui tujuan (goal) yang ingin dicapai dan cara berkontribusinya terhadap pencapaian tersebut melalui penentuan Key Performance Indicator (KPI). Didalamnya juga kita dapat selalu memonitor sampai dimanakah posisi departemen PE dalam memenuhi tujuan atau goal yang ingin dicapai dengan pengukuran kinerja secara kuantitiatif.
Dan dalam proses penentuan KPI didasarkan pada kinerja-kinerja kunci yang membantu untuk memenuhi tujuan dari yang diharapakan semula. Dari KPI tersebut dikelompokkan dalam elemen-elemen IPMS dan dilakukan penyusunan KPI secara hirarki menurut struktur di departemen PE. Dan antara tiap KPI dilakukan pembobotan dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), sehingga diketahui kepentingan masing-masing KPI satu dengan yang lain.
Hasil dari penelitian ini diharapkan mendapatkan pengukuran kinerja pada departemen PE dan hasil kinerja yang dilakukan selama ini.

Kesuksesan dan perkembangan pada setiap altivitas bisnis dari manukfaktur hingga jasa pelayanan ialah bergantung pada bagaimana sebuah organisasi memanfaatkan data penting yang dipunyai. Metode pengelolaan data inilah yang sedang dipelajari dan dipelajari kembali oleh perusahaan kecil maupun besar dimanapun untuk dapat mengukur kinerja dirinya masing-masing. Pengukuran kinerja (performance measurement) ialah penggunaan bukti secara statistik untuk memutuskan kemajuan yang sudah ditentukan oleh tujuan organisasi (Wikipedia,2007).
Kita dapat membayangkan bahwa pengukuran kinerja pada suatu bisnis hampir sama dengan ketika membayangkan ketika kita mengendalikan pada sebuah mobil. Setir mobil, pedal gas, dan pedal rem membuat sopir mobil dapat mengendalikan arah dan kecepatan yang diinginkan. Instrument pada dashboard memberikan informasi yang sangat penting tentang kecepatan aktual dan peringatan dini tentang masalah yang potensial akan terjadi pada sisitem operasi mobil tersebut. Seperti dalam balap mobil yang menjalankan kendaraan pada kecepatan tinggi. Organisasi dengan kinerja yang terbaik membutuhkan sistem pengukuran kinerja yang terbaik juga sehingga para manager dapat menoperasikan organisasi pada potensi yang paling maksimal (Simon, 2000). Begitu pula keadaan yang sedang dihadapi oleh Departement PE PT. SAMI sekarang, yaitu perusahaan semakin meningkatkan kapasitas produksi seiring dengan meningkatnya kapasitas yang ada sekarang untuk memenuhi strategi perusahaan dalam penambahan kapisitas produksi.
Dalam konteks perusahaan PT SAMI (sebagai unit bisnis), sampai saat ini belum ada pengukuran kinerja yang maksimal yang dapat dijadikan acuan para manajer maupun penyelia dalam mengukur kinerja departemen atau section yang dibawahi kecuali berupa activity plan yang hanya berupa target dan aktual pencapaian dalam sebulan. Activity plan merupakan sejumlah aktivitas yang dibuat oleh para manajer untuk meningkatkan kemampuan dari seksi yang dikepalai oleh bawahannya seperti aktivitas perbaikan peralatan pendukung produksi, kontrol overtime, kontrol pencapaian preventif maintenence, dan aktivitas-aktivitas yang lain. Aktivitas tersebut yang bermaksud baik tetapi tidak bisa dikaitkan secara langsung dengan tujuan perusahaan, sehingga akan lebih baik aktivitas-aktivitas tersebut digali dari tujuan perusahaan. Karena sistem pengukuran kinerja dapat dilaksanakan ketika strategi perusahaan dan pengukuran kinerja disejajarkan dan ketika manajer senior menyampaikan arahan misi, visi, nilai dan strategi kepada karyawan dan external stakeholder. Pengukuran kinerja memberikan kontribusi pada kesuksesan perusahaan dan keinginan dari stakeholder (Artley dan Stroh, 2001).
Ada beberapa pengukuran kinerja yang dipakai sampai saat ini, dan tiap-tiap metode pengukuran kinerja mempunyai keompok pendukung tersendiri. Seperti contoh, Balanced Scrorecord (Kaplan dan Norton, 1993, 1996, 2001). Performance Prism (Neely, 2002), Cambridge Performance Measurement Process (Neely, 1996), dan Integred Performance Measurement System (Bittici, 1998) adalah beberapa pengukuran kinerja yang dirancang untuk banyak diterapkan diperusahaan-perusahaan secara luas. Integrated Performance Measurement System (IPMS) sendiri merupakan salah satu pengukuran kinerja yang membagi bisnis perusahaan dalam empat level , yaitu dari level Bisnis (Business Corporate), unit bisnis (Business Unit), proses bisnis (Business process) hingga aktivitas-aktivitas yang ada, yang memperhatikan kebutuhan-kebutuhan dari setiap stakeholders (stakeholders requirement), dan tetap memonitor posisi perusahaan terhadap persainganya (external Monitor). Dan terutama berusaha untuk memenuhi tujuan-tujuan yang ingin dicapai (objectives) dan dengan bantuan ukuran-ukuran yang dibutuhkan (measures).
PT. SAMI khususnya Departemen Production Engneering (PE) selalu berusaha memenuhi keinginan setiap stakeholder maupun manajemen PT SAMI itu sendiri. Maka dengan pegukuran kinerja departemen dan memudahkan untuk menemukan kemungkinan masalah-masalah yang akan timbul. Dan diharapkan setiap karyawan dapat mengerti bagaimana cara berkontribusi terhadap tujuan yang akan dicapai oleh peruasahaan sehingga pada level aktivitas-aktivitas perusahaan dapat memberikan kinerja yang terbaik yang mereka miliki.

Iklan
Kategori:Skripsi Industri
%d blogger menyukai ini: