Beranda > Skripsi Industri > PENJADWALAN PEKERJAAN PADA FLEXIBLE FLOWSHOP DENGAN KRITERIA MINIMASI MEAN TARDINESS DI CV. DIMAS ROTAN SUKOHARJO

PENJADWALAN PEKERJAAN PADA FLEXIBLE FLOWSHOP DENGAN KRITERIA MINIMASI MEAN TARDINESS DI CV. DIMAS ROTAN SUKOHARJO

Januari 10, 2010

CV. Dimas Rotan Sukoharjo menghadapi permasalahan keterlambatan penyelesaian pekerjaan. Keterlambatan penyelesaian pekerjaan ini sudah berlangsung lama. Permasalahan ini mengurangi daya kompetisi dalam persaingan bisnis meuble. Beberapa faktor mempengaruhi keterlambatan penyelesaian pekerjaan. Salah satu faktor tersebut adalah metode penjadwalan produksi yang tidak sesuai dengan kondisi nyata di lantai produksi. Ketidak sesuaian ini karena penjadwalan produksi dilakukan tanpa memperhatikan keberadaan stasiun kerja bottleneck (SKB), penjadwalan produksi dilakukan dengan pendekatan forward scheduling, dan penjadwalan produksi didasarkan pada aturan prioritas first-come first-served (FCFS) tanpa memperhatikan due date.
Untuk mengatasi persolan tersebut dilakukan penjadwalan dengan dispatching rules. Prosedur dispatching rules yang pertama kali digunakan adalah first-come first-served (FCFS) dan Earliest Due Date (EDD). Apabila kedatangan order bersamaan dan due date sama atau order memiliki lebih dari satu pekerjaan maka digunakan metode Nawas, Enscore and Ham (NEH). Algoritma penjadwalan NEH digunakan untuk pemilihan pekerjaan mana yang harus dikerjakan dulu untuk mengatasi keterlambatan penyelesaian pekerjaan (mean tardiness)
Dari perbandingan perhitungan keterlambatan penyelesaian pekerjaan (mean tardines) maka dapat di simpulkan bahwa penjadwalan usulan lebih baik karena dapat mengurangi keterlambatan. Dari perbandingan keterlambatan penyelesaian pekerjaan (mean tardines) untuk order bulan Agustus 2007 – Januari 2008 untuk penjadwalan perusahaan, rata – rata mean tardiness sebesar 1 hari sedangkan penjadwalan usulan tidak mengalami keterlambatan.

Perkembangan dunia industri yang semakin kompetitif menuntut industri atau perusahaan untuk menyusun strategi dan langkah konkrit agar dapat berkompetisi dan tetap bertahan. Salah satunya adalah dengan melakukan perencanaan yang terstruktur dan terencana dengan matang. Faktor penting dalam aktivitas perencanaan yang sering tidak digunakan secara optimal adalah penjadwalan produksi. Banyak perusahaan mengalami permasalahan tidak dapat merealisasikan pengiriman barang tepat pada waktunya, banyak job yang terlambat, overtime, dan jumlah stasiun kerja yang menganggur (idle). Hal ini akan menyebabkan terjadinya pemborosan aktivitas maupun biaya produksi (Raharjo, 2002).
Sequencing (pengurutan) dan penjadwalan adalah salah satu bentuk pengambilan keputusan yang memainkan peranan penting dalam industri manufaktur dan jasa. Dalam lingkungan yang kompetitif sekarang ini, sequencing dan penjadwalan telah menjadi suatu keharusan untuk tetap dapat bertahan di pasar. Perusahaan harus berhadapan dengan waktu pengiriman (delivery date) yang ditetapkan oleh pelanggan, ketika kesalahan terjadi maka akan menyebabkan kehilangan keuntungan yang signifikan. Perusahaan juga harus menjadwalkan aktivitas dengan suatu cara tertentu agar sumber daya tersedia secara efisien (Pinedo,2002).
CV. Dimas Rotan merupakan perusahan meubel berorentasi ekspor yang berlokasi di Trangsan, Gatak, Sukoharjo. Dalam memenuhi permintaan konsumen, perusahaan menggunakan strategi make to order, sehingga produk yang diproduksi merupakan pesanan dari pembeli ( buyer ).
Setiap permintaan yang masuk ke CV. Dimas Rotan diterima oleh bagian pemasaran untuk kemudian diolah untuk menentukan kebutuan bahan baku oleh Bagian Produksi (BP). Bagian Produksi akan menyusun bill of material untuk setiap style order yang masuk ke perusahaan. Hingga tahap ini pihak BP sudah dapat melakukan perhitungan untuk menentukan berapa material yang diperlukan kemudian outputnya digunakan oleh BP untuk melakukan pembelian material sesuai kebutuhan. Tahap selanjutnya, bagian desain akan membuat pola awal sesuai dengan model dan ukuran yang sesuai dengan permintaan buyer. Contoh produk yang sudah jadi diperiksa oleh BP bersama buyer agar sesuai dengan model dan ukuran. Jika produk belum sesuai, maka buyer akan memberi revisi produk. Bagian desain akan membuat produk sesuai dengan revisi buyer dan membuat master work order yang berisi mengenai nama produk, ukuran, desain dan material yang digunakan. Master work order ini kemudian diedarkan ke seluruh bagian produksi.
Berdasarkan pola aliran, proses penjadwalan produksi di CV. Dimas Rotan dapat digolongkan sebagai permasalahan penjadwalan flexible flowshop. Flexible flowshop adalah semua pekerjaan akan mengalir pada jalur produksi yang sama.

Sebagai perusahaan berorientasi eksport, untuk tetap bertahan dan menjaga kepercayaan buyer, perusahaan harus menjaga kredibilitas, baik itu kualitas produk, ketepatan waktu dalam merealisasikan due date maupun kecepatan dalam merespon order dari buyer. CV. Dimas Rotan dalam merealisasikan due date sering mengalami keterlambatan. Sebagai contoh order EC 112 yang direncanakan pengirimannya pada tanggal 25/8/2007 ternyata terealisasi terkirim pada tanggal 28/8/2007. Order SC 091 rencana pengirimannya tanggal 6/11/2007 dapat terealisasi pada tanggal 8/11/2007. Order SC 299 dan SC 502 yang masing-masing direncanakan pengirimannya pada tanggal 8/11/2007 dan 5/12/2007 ternyata item yang terealisasi terkirim tanggal 10/11/2007 dan 7/12/2007. Order SC 513 pada tanggal 2/1/2008 terealisasi terkirim tanggal 5/1/2008. Bila dihitung rata-rata keterlambatan order selama bulan Agustus 2007 – Januari 2008 adalah 1 hari.
Salah satu penyebab keterlambatan adalah belum adanya penjadwalan produksi yang terstruktur. Pada saat ini penjadwalan di CV. Dimas Rotan dengan cara menghitung waktu proses master work order. Waktu proses ini merupakan waktu penyelesaian satu pekerjaan (style order). Dengan melihat due date dari work order terakhir, bagian pemasaran beserta pemimpin perusahaan dapat memperkirakan kapan order masuk ke lantai produksi dan menentukan due dates order yang masuk.
Keterlambatan due dates dapat memberikan dampak buruk terhadap perusahaan, karena setiap keterlambatan akan mendapat sanksi yang bervariasi tergantung pada jangka waktu keterlambatan dan kebijaksanaan buyer. Misalnya bila terjadi keterlambatan, maka biaya pengiriman yang semula ditanggung oleh pembeli menjadi tanggung jawab perusahaan Selain itu, tingkat keparcayaan buyer kepada perusahaan akan turun dan mengakibatkan berpindahnya buyer ke perusahan lain.
. Dengan mempertimbangkan kondisi di atas, diperlukan usaha perbaikan penjadwalan produksi untuk meminimasi terjadinya keterlambatan penyelesaian order di lantai produksi dan meningkatkan performansi perusahaan. Sehingga, perusahaan dapat lebih mudah melakukan pengendalian produksi dan realisasi due dates sesuai dengan target yang telah direncanakan.

Iklan
Kategori:Skripsi Industri
%d blogger menyukai ini: