Beranda > Skripsi Industri > Perbandingan Metode Electre, GPAP, MCDM Expert System Terhadap Pemilihan Hotel Bintang Empat di Yokyakarta (Studi kasus pada Ho

Perbandingan Metode Electre, GPAP, MCDM Expert System Terhadap Pemilihan Hotel Bintang Empat di Yokyakarta (Studi kasus pada Ho

Januari 10, 2010

Multi Criteria Decision Making (MCDM) merupakan fokus kajian yang sangat menarik untuk dipelajari. Ditinjau dari kegunaannya MCDM dapat difungsikan pada banyak permasalahan seperti pemilihan hotel yang terbaik pada kelasnya dengan berbagai macam kriteria yang diinginkan. Pemilihan hotel terbaik untuk tujuan wisata adalah proses pengambilan keputusan yang sangat baik untuk daerah Yokyakarta yang merupakan daerah tujuan wisata. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan metode-metode MCDM yang diaplikasikan pada pemilihan hotel. Metode-metode yang dibandingkan adalah metode ELECTREE GPAP dan MCDM Expert System. Dari hasil analisa dari ketiga metode maka diperoleh hasil bahwa metode ELECTREE DAN GPAP memberikan hasil keputusan yang sama bahwa hotel Inna Garuda merupakan hotel terbaik. Namun demikian metode MCDM Expert System memberikan nhasil yang berbeda yaitu Hotel Santika. Hal Ini disebabkan karena kriteria yang ditentukan dalam pemilihan Hotel terpenuhi sedangkan jarak aksesnya tidak terlalu memebrikan pengaruh yang signifikan jika dibandingkan denga n Hotel Inna Garuda. Dengan demikian maka metode MCDM expert system lebih sensitive dan lebih menberikan hasil yang lebih baik.

Pariwisata di jaman modern sekarang ini sudah menjadi suatu tuntutan hidup. Permintaan orang untuk melakukan perjalanan wisata dari tahun ke tahun terus meningkat. Ini tak hanya di hampir setiap negara di dunia, tetapi juga didalam Indonesia.
Dari peta kepariwisataan Indonesia sekarang ini, banyak resort wisata yang dikembangkan di Daerah Tujuan Wisata (DTW). Meningkatnya investasi dalam resort wisata dapat dilihat dari peningkatan jumlah hotel akhir-akhir ini. Pada tahun 1990, jumlah hotel berbintang tercatat sebanyak 420 hotel, tetapi di tahun 1996 meningkat menjadi 710 hotel (Foster dalam Yoeti, 2003).
Banyaknya orang yang melakukan perjalanan wisata ini menciptakan permintaan akan pelayanan akomodasi seperti Resort dan lain sebaginya. Berbeda akan kebutuhan manusia akan mobil dan rumah, hospitality merupakan intangible product (produk tak tampak), misalnya lembutnya tempat tidur, indahnya lobby, enaknya makanan, fasilitas yang lengkap, lokasi, lingkungan yang aman, nyaman dan tentram, merupakan produk yang hendak dijual oleh suatu hotel (Foster, 2003).
Pasar industri hotel dapat dibagi menjadi dua segmen penting, yaitu komersial dan leisure (senang-senang). Keduanya biasa disebut sebagai commercial hotel dan resort hotel. Segmen commercial hotel terdiri dari orang yang melakukan perjalanan untuk tujuan bisnis. Termasuk disini pengunjung yang tergolong pejabat pemerintah, militer yang dalam perjalanan dinas, peserta konvensi, exhibisi, dan seminar. Sedangkan resort hotel terdiri dari orang yang melakukan perjalanan wisata dengan tujuan bersenang-senang, rekreasi, olah raga atau tujuan kesehatan (Foster dalam Yoeti, 2003).
Yogyakarta dapat dikatakan merupakan salah satu tujuan wisata di Indonesia, disamping sebagai kota pendidikan. Tetapi tentunya para tamu yang menginap di Hotel di Yogyakarta tak selalu untuk tujuan wisata, berapa diantaranya tentu untuk tujuan bisnis atau lainnya. Tetapi status Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata tentu dapat menjadi kerangka acuan bagi banyak berdirinya full service hotel (hotel dengan layanan penuh, terutama hotel berbintang) di Yogyakarta. Kendati tidak keseluruhan, setidaknya pihak manajemen hotel tentu perlu memperhitungkan wisatawan sebagai calon tamunya.
Bukti mencolok Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata adalah fenomena pada saat musim liburan, biasanya hotel di Yogyakarta penuh atau setidaknya meningkat tingkat huniannya. Fenomena ini sekaligus juga menunjukkan bahwa pasar wisata bagi hotel di Yogyakarta tak hanya diisi oleh wisatawan asing, tetapi juga wisatawan lokal.
Tentu tiap hotel didirikan dengan pertimbangan pasar yang tak semata wisatawan, pun kendati didirikan di Yogyakarta, tetapi tentu mereka memperhitungka pasar wisatawan.
Dari uraian diatas, terdapat alasan kuat, setidak-tidaknya atas dasar status Yogyakarta sebagai salah satu daerah tujuan wisata, untuk menilai hotel mana diantara hotel berbintang di Yogyakarta sebagai hotel terbaik untuk alasan wisata. Usaha penilaian ini tentu menuntut penilaian kembali, kriteria/atribut mana, yang memiliki arti penting dan derajat nilai yang signifikan bagi menetapkan hotel terbaik, kemudian menggunakan kriteria tersebut bagi menetapkan hotel terbaik, tentu dari segi pariwisata atau sudut pandang wisatawan pemakai hotel. Hotel terbaik dalam arti seobyektif mungkin, tentunya adalah berdasar paradigma yang lazim berlaku bagi wisatawan, setidak-tidaknya atau sedapat mungkin, dalam arti situasi kontemporer sekarang ini.
Penelitian ini mencoba menentukan kualitas hotel terbaik diantara hotel berbintang empat di Yogyakarta. Alasan pemilihan hotel berbintang adalah dengan suatu asumsi bahwa hotel berbintang adalah tergolong dalam full service hotel dan dibangun dengan tujuan untuk kenyamanan penuh para tamunya dan melayani tujuan tamunya, dan kedua karena hotel dengan kelas tersebut diduga mengenakan tarif sedang, yang terjangkau oleh kebanyakan kelas menengah wisatawan.
Penelitian ini dimaksudkan, disamping mencari hotel yang terbaik untuk tujuan wisata, juga ingin mempelajari berapa metode yang biasa digunakan dalam penentuan keputusan banyak kriteria dan telah ditetapkan dan dengan beberapa alternatif.

Kategori:Skripsi Industri
%d blogger menyukai ini: